-->

Notification

×

Iklan

Iklan

PANDUAN PRAKTIS MENYUSUN PROPOSAL PENELITIAN

Saturday, March 21, 2020 | 1:50:00 PM WIB Last Updated 2020-04-05T10:10:13Z



KONSTRUKSI SOSIAL PERIWAYATAN HADIS: Studi Tahamul ‘Ada Perspektif Peter L. Berger




Wahyudin Darmalaksana
yudi_darma@uinsgd.ac.id
Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Latarbelakang
Hadis merupakan subjek yang turut berperan dalam membentuk masyarakat. Hadis digulirkan dari masa ke masa dalam realitas budaya melalui periwayatan dengan cara penyampaian, penerimaan, dan pengamalan (Sulaemang, 2008). Ini dalam teori ilmu hadis disebut tahamul ‘ada (Asfiyak, 2019). Di saat yang sama, realitas penerima hadis bukan merupakan budaya yang kosong dari nilai dan tradisi setempat. Praktis, hadis dijadikan norma dan nilai di masyarakat bila isi kandungannya bersesuaian dengan nilai dan budaya yang tengah berlangsung. Terjadi pula di mana ajaran hadis diterima masyarakat sehingga menjadi konstruk sosial yang berperan menggantikan atau memperbaharui tradisi sebelumnya. Daripada itu hadis dapat bersifat historis temporal di mana ia membutuhkan pemahaman yang mesti disesuaikan dengan kondisi umat manusia di setiap zaman. Hal ini karena sejak masa wurud-nya hadis sampai sekarang terdapat berbagai perubahan dan atau perkembangan situasi dan kondisi yang terjadi (Suryadilaga, 2017). Tegaslah terdapat dialektika penerimaan hadis dalam memebentuk budaya baru di masyarakat.

Menurut teori konstruk sosial, yang dikembangkan Peter L. Berger, realitas kehidupan sehari-hari memiliki dimensi subjektif dan objektif (Wuthnow, Hunter, Bergesen, & Kurzweil, 2013). Manusia merupakan subjek dalam menciptakan realitas sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana manusia mempengaruhinya melalui proses internalisasi yang mencerminkan realitas subjektif (Woodhead, 2001). Setiap individu yang mempunyai dimensi subjektif yang akan berhadapan dengan orang berpengaruh yang dipahami sebagai dimensi realitas objektif (Ngangi, 2011). Melalui proses subjektivasi dan objektivasi sertra eksternalisasi terbentuklah realitas sosial (Yuningsih, 2006). Dalam perjalanan sejarahnya, realitas sosial dari masa silam ke masa kini, ditata dan diterima, untuk melegitimasi konstruksi sosial yang sudah ada dan memberikan makna. Dunia manusia ditandai oleh keterbukaan, dan perilakunya hanya sedikit saja yang ditentukan oleh naluri. Ia dengan sadar membentuk perilakunya, memaksakan suatu tertib pada pengalamannya (Ngangi, 2011). Hal ini berlangsung secara terus menerus, dengan kesadaran intensionalnya selalu terarah dan dipengaruhi oleh objek yang berada diluarnya, hingga relasinya dengan masyarakatnya dan segala pranatanya, bersinggungan secara dialektis (Moesa, 2007).

Teori tahamul ‘ada hadis memiliki kesesuaian dengan teori konstruksi sosial. Melalui proses periwayatan, hadis disampaikan, diterima, dan diamalkan. Menurut teori konstruksi social, ideologi dan budaya masyarakat terbentuk melalui proses konstruksi, yaitu internalisasi, objektivasi dan eksternalisasi. Penulis bermaksud melaksanakan penelitian dengan judul: “Konstruksi Sosial Periwayatan Hadis: Studi Tahamul ‘Ada Perspektif Peter L. Berger”.
  

Tedapat relevansi antara teori periwayatan ilmu hadis dan teori konstruksi sosial Peter. L. Berger berkenaan dengan tahamul ‘ada hadis dalam realitas sosial-budaya Islam.

Pertanyaan penelitian ini adalah:
1.  Bagaimana teori periwayatan dalam ilmu hadis?
2.  Bagaimana teori konstruksi sosial Peter L. Berger?
3.  Bagaimana tahamul ‘ada hadis dalam realitas budaya Islam menurut teori konstruksi sosial Peter L. Berger?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tahamul ‘ada hadis dalam teori periwayatan ilmu hadis dengan pendekatan teori konstruksi sosial Peter L. Berger.

Manfaat dan Kegunaan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk kontribusi pengetahuan ilmu hadis, dan diharapkan berguna menjadi perbendaharaan kepustakaan pengetahuan ilmu hadis.

Tinjauan Pustaka
Pembahasan topik periwayatan hadis sudah sangat melimpah, namun tidak ditemukan penelitian yang membahas tahumul ‘ada hadis dalam tema secara khusus terlebih dikaitkan dengan teori konstruksi sosial.


Penelitian terdahulu tentang topik periwayatan hadis sangat membantu penulis untuk perumusan teori periwayatan hadis dalam penelitian ini. Sulaemang, Teknik Periwayatan Hadis: Cara Menerima dan Meriwayatkan Hadis, Jurnal Al-‘Adl, 2008. Penelitian ini menjelaskan, cara penerimaan hadis beragam langsung maupun tidak langsung antara guru dan murid. Hendri Nadhiran, Periwayatan Hadis Bil Makna: Implikasi dan Penerapannya sebagai Uji Kritik Matan di Era Modern, Jurnal Ilmu Agama, 2013. Penelitian ini menegaskan, periwayatan hadis bil makna menyebabkan kesulitan penelitian kesahihah matan. Burhanuddin Abd. Gani, Periwayatan Hadis dengan Makna Menurut Muhaddisin, Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah, 2019. Penelitian ini menegaskan, periwayatan dengan makna setelah pembukuan hadis tidak dibenarkan lagi. Indri, Metode Liqa dan Kashf dalam Periwayatan Hadis, Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis, 2015. Penelitian ini tiba pada kesimpulan metode liqa dan kashf tidak bisa dijadikan dasar periwayatan karena tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Arif Chasanul Muna, Pola Pemalsuan Sanad dalam Periwayatan Hadis: Pandangan Mahafuddin dan Orientalis, Jurnal Penelitian, 2012. Penelitian ini menunjukan tentang adanya pola-pola pemalsuan sanad dalam periwayatan hadis. Khoirul Asfiyak, Jarh Wa Ta’dil : Sebuah Pemodelan Teori Kritik Periwayatan Hadis Nabawi, JAS: Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhsiyyah, 2019. Penelitian ini menyimpulkan, jarh dan ta’dil merupakan metodologi orisinal dalam kritik periwayatan hadis.

Robert Wuthnow, James Davison Hunter, Albert J. Bergesen, Edith Kurzweil, Cultural Analysis: The Work of Peter L. Berger, Mary Douglas, Michel Foucault, and Jürgen Habermas, London: Routledge, 2013. Buku ini menujunkan bahwa pendekatan konstruksi sosial berkembang pesat pada 1970-an dipengaruhi ide-ide Foucault, selanjutnya Peter L. Berger kembali mengetengahkan skema dialektis mengenai eksternalisasi, objektivasi dan internalisasi. Linda Woodhead, Paul Heelas, David Martin, Peter Berger and the Study of Religion, London: Routledge, 2001. Buku ini menyatakan, kontruksi sosial merupakan sebuah pandangan bahwa semua nilai, ideologi, dan institusi sosial adalah buatan manusia. Charles R. Ngangi, Konstruksi Sosial dalam Realitas Sosial, Jurnal Agri Sosioekonomi, 2011. Penelitian ini menegaskan, penerapan teori Berger tidak terbatas untuk analisis masyarakat secara makro serta pranata sosial yang besar, tetapi juga terhadap analisis kelompok kecil. Ani Yuningsih, Implementasi Teori Konstruksi Sosial dalam Penelitian Public Relations, Mediator: Jurnal Komunikasi, 2006. Penulis ini menganjurkan teori konstruksi social Peter L. Berger untuk pelaksanaan penelitian kualitatif. Ali Maschan Moesa, Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama, Yogyakarta: LKIS, 2007. Buku ini menunjukan bentuk konstruksi sosial atas legitimasi agama.

Jelaslah bahwa teori konstruksi sosial Peter L. Berger telah banyak digunakan dalam penelitian social-budaya agama. Selebihnya, para peneliti menjunjukan bahwa periwayatan hadis dalam ilmu hadis khususnya tentang tahamul ‘ada merupakan peristiwa sosial-budaya Islam. Semua referensi hasil penelitian terdahulu memberikan sumbangan untuk perumusan kerangka berpikir tentang tinjauan tahamul ‘ada berdasarkan teori konstruksi sosial yang secara langsung realtif tidak ditemukan fokus spesifik tema tersebut dari sejumlah penelitian sebelum ini. 

Kerangka Berpikir
Secara historis, periwayatan hadis berlangsung dalam budaya sejak hadis disabdakan sampai pembukuannya pada abad ke VIII M (Asfiyak, 2019). Periwayatan hadis oleh para ulama hadis telah melahirkan ilmu hadis tentang periwayatan hadis dengan pemaparan yang sistematis (Sulaemang, 2008). Perjalanan periwayatan hadis pada gilirannya menghasilkan kodifikasi kitab-kitab hadis (Muna, 2012).

Kontruksi sosial dipahami sebagai sebuah pernyataan keyakinan (a claim) dan juga sebuah sudut pandang (a viewpoint) bahwa kandungan dari kesadaran, dan cara berhubungan dengan orang lain itu diajarkan oleh kebudayaan dan masyarakat (Wuthnow, Hunter, Bergesen, & Kurzweil, 2013). Peter L. Berger menjelaskan skema dialektis konstruksi sosial dalam bentuk eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi (Woodhead, 2001). Eksternalisasi berarti usaha pencurahan diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Objektivasi berarti hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia, di mana objektivasi masyarakat meliputi beberapa unsur seperti institusi, peranan, dan identitas. Adapun internalisasi bermakna penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Beragam unsur dari dunia yang diobjektivasikan akan ditangkap sebagai gejala realitas di luar kesadarannya sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui internalisasi manusia menjadi hasil masyarakat (Ngangi, 2011).

Proses tahamul ‘ada hadis dalam teori ilmu hadis tentang periwayatan hadis meliputi penyampaian, penerimaan, dan pengamalan (Indri, 2015). Penyampaian hadis dapat berlangsung dari guru ke murid dalam beragam bentuk dan cara (Sulaemang, 2008). Penerimaan hadis dipahami sebagai pemeliharaan hadis baik dalam hafalan maupun tulisan (Gani, 2019). Sedangkan pengamalan hadis merupakan aktualisasi baik untuk disampaikan kembali kepada murid maupun untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (Nadhiran, 2013).

Periwayatan hadis dengan meminjam teori konstruksi sosial merupakan proses yang berlangsung dalam realitas sosial dan budaya. Di situ terdapat dialektika antara periwayat atau penyampai hadis dan penerima hadis sebelum hadis mewujud dalam bentuk pengamalan. Juga ada dialektika bagi penerima hadis antara subjektivasi dan objektivasi sebelum pemeliharaan dan kemudian pengamalan. Menurut teori konstruksi sosial, penyampaian hadis dipahami sebagai eksternalisasi, dan penerimaan serta pemeliharaan dipahami sebagai subjektivasi dan objektivasi. Penelitian ini bermaksud melakukan tinjauan tahamul ‘ada dengan pendekatan teori konstruksi sosial.

Gambar kerangka berpikir sebagaimana di bawah ini:
  

Metodologi Penelitian
Ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode studi kepustakaan terhadap rerefensi primer dan sekunder melalui tinjauan pustaka. Secara terfokus penelitian ini melakukan eksplorasi terhadap tema tahamul ‘ada dalam teori ilmu hadis tentang periwayatan hadis. Adapun analisis atau pendekatan penelitian ini menggunakan teori konstruksi social Peter L. Berger.













Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan. Bab II Teori Periwayatan Hadis: A) Sejarah Periwayatan; B) Ilmu Periwayatan Hadis; dan C) Kodifikasi Hadis. Bab III Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger: A) Seluk-Beluk Teori Peter. L. Berger; B) Konstruksi Sosial Agama; dan C) Dialektika Internalisasi, Objektivasi, dan Eksternalisasi. Bab IV Tahamul ‘Ada Hadis Perspektif Peter L. Berger: A) Esensi dan Urgensi; B) Teori Tahamul ‘Ada; dan C) Dialektika Penyampaian, Penerimaan dan Pengamalan. Bab V Penetup: A) Kesimpulan dan B) Saran atau Rekomendasi
  

Daftar Pustaka

Asfiyak, K. (2019). Jarh Wa Ta’dil : Sebuah Pemodelan Teori Kritik Periwayatan Hadis Nabawi . JAS: Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhsiyyah.
Gani, B. A. (2019). Periwayatan Hadis dengan Makna Menurut Muhaddisin . Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah.
Indri. (2015). Metode Liqa dan Kashf dalam Periwayatan Hadis. Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis .
Moesa, A. M. (2007). Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama . Yogyakarta: LKIS.
Muna, A. C. (2012). Pola Pemalsuan Sanad dalam Periwayatan Hadis: Pandangan Mahafuddin dan Orientalis. Jurnal Penelitian.
Nadhiran, H. (2013). Periwayatan Hadis Bil Makna: Implikasi dan Penerapannya sebagai Uji Kritik Matan di Era Modern. Jurnal Ilmu Agama.
Ngangi, C. R. (2011). Konstruksi Sosial dalam Realitas Sosial. Agri Sosioekonomi.
Sulaemang. (2008). Teknik Periwayatan Hadis: Cara Menerima dan Meriwayatkan Hadis. Al-‘Adl.
Suryadilaga, M. A. (2017). Pembacaan Hadis Dalam Perspektif Antropologi. Al-Qalam: Jurnal Kajian Keislaman.
Woodhead, L. (2001). Paul Heelas, David Martin, Peter Berger and the Study of Religion. London: Routledge.
Wuthnow, R., Hunter, J. D., Bergesen, A. J., & Kurzweil, E. (2013). Cultural Analysis: The Work of Peter L. Berger, Mary Douglas, Michel Foucault, and Jürgen Habermas. London: Routledge.
Yuningsih, A. (2006). Implementasi Teori Konstruksi Sosial dalam Penelitian Public Relations. Mediator: Jurnal Komunikasi.






CARA MENULIS PROPOSAL


Proposal lengkap klik di sini: Contoh Proposal


×
Berita Terbaru Update