-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Memilih Dress

Tuesday, October 17, 2023 | 5:30:00 AM WIB Last Updated 2023-10-17T15:27:48Z



“Ciyee kamu gak putih abu lagi sekarang ya,” kata temanku.

Mungkin betul kata orang. Masa kuliah merupakan usia pencarian jati diri. Tidak menjadi followers tapi leader minimal pemimpin untuk diri sendiri.

Meskipun begitu pengaruh lingkungan tetap dan pasti besar. Bahkan, bagi aku waktu kuliah lebih sebagai masa meniru orang sukses, orang besar, dan orang keren. Masa idolakan tokoh-tokoh terkenal.

Dulu kami serba seragam; putih abu. Di masa kuliah sangat berbeda. Pakaian keseharian mana suka asal sopan. Tidak pakai seragam mungkin menjadi salah satu keseruan semasa kuliah.

Aku suka bingung pilih pakaian untuk hari-hari. Bingung tentang warna, keserasian, mode, dan gaya. Apakah dress dua potong baju atasan dan kain bawahan. Ataukah yang tutupi hingga keseluruhan kaki. Tentu aku gak kenakan blouse karena menyempit di pinggang.

Sekali waktu aku bingung pilih rok. Kulihat cermin terasa tidak nyambung. Juga gak nyambung dengan warna kerudung. Aku video call ibu di rumah “Bu, baju aku serasi gak?” Ibu spontan menjawab “Kamu cantik.” Baru aku percaya diri kalau pakaian sudah terasa serasi.

Ini baru soal pakaian. Hal lainnya soal sikap dan budaya. Memang aku sedang cari jati diri. Namun, budaya tetap mendominasi. Aku belum punya idealisme. Toh budaya pasti dilandasi nilai-nilai idealis, kecuali toxic.

Semasa kuliah aku mesti terhindar dari lingkungan yang merugikan. Karena itu, aku mesti mencari circle pertemanan. Teman satu frekuensi. Lebih jauh lagi komunitas.

Mulai dari sekarang aku mesti sumbangkan kebiasaan yang baik untuk lingkungan. Sebisa mungkin aku tampil dengan versi terbaik. Ini untuk kebaikan aku di masa depan.

Aku sedang pimpin diri aku sendiri. Meskipun belum begitu paham dengan leadership, namun aku ngerti nilai-nilai inti budaya asuh.

Di sini aku bertemu ragam budaya, corak. Aku belajar menjatuhkan pilihan dari berbagai tawaran lingkungan. Aku berada dalam lingkungan pergaulan yang multikultural. Aku masih mencari diri aku sendiri yang paling otentik.

“Terima kasih ayah, ibu, kakek, dan nenek. Telah tanami aku nilai-nilai,” kataku dalam hati.


Wahyudin Darmalaksana, Founder Kelas Menulis, Motivator pada Sentra Publikasi Indonesia

×
Berita Terbaru Update