Mohon Pembaca dapat Menyumbang Judul Tulisan Ini




Pendahuluan
Semua akademisi seharusnya mampu menulis paper. Sebab, penulisan paper merupakan pengetahuan sistematis yang dapat dipelajari tahap demi tahap secara praktis. Namun, sebagian akademisi tidak jarang berhadapan dengan masalah tidak tuntasnya penulisan paper. Padahal, publikasi ilmiah merupakan kewajiban.

Ada beberapa faktor mengapa penulisan paper tidak tuntas. Faktor utamanya ialah penulis paper tidak menyatakan pertanyaan utama yang akan dijawab atau akan dibuktikan. Memang bisa jadi data melimpah dan pembahasan terurai tak berkesudahan --untuk tidak menyebut muter-muter-- hingga dihasilkan tulisan yang teramat luas, panjang, dan lebar hanya amat disayangkan tidak tuntas.

Sebenarnya, tulisan tidak perlu panjang apatah lagi melebar tetapi fokus menjawab pertanyaan utama. Oleh karena itu, pertanyaan harus jelas bergantung topik penelitian, tegas didasarkan perumusan, spesifik berpulang kepada analisis yang digunakan, dan fokus sesuai bidang keahlian atau kepakaran.


Materi dan Metode
Tulisan ini merupakan kerja pemantauan dan pengendalian selam tiga tahun sejak 2016 sampai 2018. Sejak itu, pengaturan (regulation) penelitian mewajibkan keluaran (output) draf artikel dan outcome publikasi paper di jurnal ilmiah. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) memiliki 755 judul penelitian antara 2016 dan 2018. Telah berhasil publikasi 30 persen.

Sebagai strategi pengendalian, kewajiban publikasi ditopang oleh penyelenggaraan Kelas Menulis Reguler (KMR). Pengetahuan sistematis penulisan paper diproduksi, dipahami, dipelajari, dan dipraktikkan di KMR ini. Secara umum, KMR memiliki tiga Wali Kelas yaitu Dirosah, Humaniora, dan Sains.

Ada dua sasaran KMR yakni prosiding International Standard Serial Number  (ISSN) melalui konferensi internasional dan paper jurnal ilmiah reguler, baik Nasional maupun Internasional. Jika tidak keduanya, maka bahan paper wajib diunggah di repository digital library UIN SGD. Sebagai standar minimal outcome, paper hasil penelitian dapat pula dipublikasikan dalam prosiding International Standard Book Number (ISBN) melalui seminar Nasional.

Menyadari kesulitan korespondensi, manajemen penelitian melatih penulis korespondensi dua angkatan Tahun 2017 dan Tahun 2018. Penulis korespondensi diujicoba dalam program Co-Authoring a Paper with Professor (CAPP) Tahun 2017. Berhasil 80 prosiding sains dan non-sains diterbitkan di publisher internasional bereputasi global.

Tulisan ini menyoroti tujuan publikasi ilmiah dan kendala-kendala yang dihadapi. Analisis akan diberikan untuk mengatasi masalah menuju sukses publikasi.

Hasil dan Pembahasan
Setiap tahun, institusi menyediakan bantuan penelitian. Antara lain laporan akhir bantuan tersebut berupa draf artikel. Laporan akhir direviu oleh reviewer. Hasil reviu menunjukan bahwa 70 persen draf belumlah memenuhi kriteria bahan paper. Suatu kemajuan yang perlu dibanggakan dan selayaknya diberikan penghargaan atau anugrah adalah 30 persen peneliti dari 755 judul penelitian telah berhasil melaporkan tagihan outcome publikasi ilmiah. Adapun sisanya, penyelesaian draf artikel sepertinya hanya untuk memenuhi laporan saja.

Penelitian sebanyak itu masing-masing berusaha menjawab pertanyaan. Tiap penelitian terdiri atas sejumlah pertanyaan antara tiga atau empat pertanyaan. Peneliti berusaha menjawab semua pertanyaan itu. Hasilnya, terbentuklah pembahasan yang panjang dan lebar, bahkan terkadang melebar. Sebanyak 70 persen peneliti tampaknya kesulitan menyusun laporan akhir berupa draf artikel. Sisanya, tampak memiliki cara tersendiri dalam penyusunan draf artikel yaitu membagi penelitian menjadi beberapa paper di mana masing-masing pertanyaan penelitian menghasilkan satu paper. Artinya, tiap paper memiliki satu pertanyaan utama tunggal. Kenyataannya, sekian peneliti mampu menghasilkan dua sampai tiga paper dari satu topik penelitian. Tentu, hal itu lebih baik sebagai bukti produktivitas penelitian padat output. Akan tetapi, output bahan paper tuntas itulah yang lebih diharapkan dari aktivitas penelitian, meskipun hanya menghasilkan satu bahan paper. Jelaslah, factor tidak tuntansnya draf artikel disebabkan tidak fokusnya penulisan untuk menjawab pertanyaan utama tunggal.

Desain pemikiran memainkan peran vital dalam sebuah tulisan. Sebuah desain yang hendak menjawab pertanyaan utama penelitian. Desain akan ditopang oleh teori-teori mendasar, metode pengumpulan data yang terpercaya dan kuat, dan metode analisis yang tajam. Terkadang desain kehilangan "jantungnya" yaitu perumusan masalah atau hipotesis. Jantung ini akan berfungsi memberikan denyut dan tulisan menjadi hidup. Padahal, penelitian dapat menyajikan asumsi-asumsi –bila memang tidak ada hipotesis—yang merupakan rumusan jawaban atas pertanyaan utama yang sedang diajukan. Terkadang pula tulisan tidak secara tegas apakah melawan (menyangkal) teori atau medukung teori sebagai pengayaan atau pengembangan. Untuk memosisikan penulis dalam konstelasi penelitian terdahulu, praktis referensi baru dan mutakhir tidak bisa diabaikan. Adapun metodologi yang relevan akan bergantung teori yang digunakan. Dijumpai pula bahwa peneliti dalam pengumpulan data tidak atau kurang patuh terhadap skenario atau alur ceita penulisan. Ada baiknya, analisis digunakan metode interdisipliner baru yang dirumuskan secara kolaboratif sesuai subjek yang hendak diselesaikan. Semua ini merupakan cakupan desain pemikiran penelitian dan penulisan karya ilmiah.

Sering terjadi bahan paper menyajikan kutipan-kutipan tanpa diolah menjadi bahasa sendiri. Sebuah tulisan wajib mengutip banyak sumber untuk menguatkan pernyataan (statement) tetapi hindari kutipan langsung secara berlebihan. Memang di era digital mudah sekali copy paste dalam arti memindahkan pernyataan orang lain. Implikasinya, tujuan penulisan menjadi kabur tidak sejalan dengan desain pemikiran yang telah dirumuskan sejak permulaan. Perlu ditegaskan bahwa sebuah paper maksimum similarity 15 persen. Oleh karena itu, kutipan-kutipan membutuhkan paraphrase berdasarkan kebutuhan untuk menguatkan pernyataan-pernyataan tadi. Tindakan ini akan menghasilkan tulisan original yang terhindar dari plagiarisme.

Semua di atas itu harus tuntas melalui KMR. Dia tidak hanya mengurus perkara sistematika, tetapi juga memastikan pernyataan atau state of the art. Pernyataan harus dapat ditemukan di tiap paragraf sejak pendahuluan, metode, pembahasan, dan kesimpulan.

Korespondensi akan terasa berat seperti "menyetir kendaraan sebelum latihan atau mahir". Korespondensi adalah proses pengiriman paper ilmiah ke penerbit jurnal online. Baru setelah beberapa kali pengalaman maka korespondensi sesungguhnya akan berlangsung lancar. Penulis utama harus memastikan bahan paper tuntas. Penulis utama ialah penulis yang disebutkan pertama dalam urutan paper. Paper dapat mencantumkan beberapa urutan penulis seperti penulis utama, penulis korespondensi, penulis pendamping, dan seterusnya. Penulis utama dapat pula sekaligus menjadi penulis korespondensi. Untuk perkara teknis penulis utama –sebelum benar-benar mahir-- dapat menyerahkan urusan korespondensi ke penulis korespondensi.

Penulis korespondensi mempunyai tugas melakukan templating paper sesuai style jurnal ilmiah. Penulis korespondensi memastikan paper telah sesuai ketentuan jurnal yang dituju atau jurnal yang menjadi sasaran sebelum pengeriman paper secara online berbasis open journal system (OJS). Penulis korespondensi bertanggungjawab melakukan revisi bila editor jurnal mengembalikan paper untuk revisi sedangkan revisi tersebut merupakan revisi atau koreksi minor. Jika revisi membutuhkan koreksi major, maka bahan paper dikembalikan kepada penulis utama untuk dilakukan perombakan dengan cara peer-group. Tegaslah, korespondensi bukan merupakan kesulitan utama. Institusi telah menyiapkan sumber daya manusia (SDM) penulis korespondensi terlatih untuk membantu kesulitan para penulis dalam korespondensi.

Terdapat sejumlah praktik terbaik (best practice) dalam percepatan publikasi hasil penelitian di UIN SGD. Kenyataan ini patut diapresiasi sebagai hasil produktivitas akademisi. Selebihnya, manajemen penelitian harus mengupayakan agar percepatan publikasi berkorelasi dengan pemenuhan tagihan outcome hasil penelitian dan peningkatan publikasi dari prosiding ke paper jurnal regular. Implikasinya, dinamika ini akan berkorelasi pula dengan ikhtiyar percepatan professor atau Guru Besar. Tentu selebihnya harus dipikirkan dampak (impact) atau goal penelitian dan publikasi.


Kesimpulan
Menulis paper itu seperti sedang bertutur menurut alur. Bukan memakai skenario orang lain. Menulis paper harus membuat alur cerita sendiri. Jangan khawatir soal kualitas karena kita tahu apa yang hendak kita tuliskan untuk menjawab pertanyaan utama. Berkolaborasi lebih baik. Terutama untuk memastikan bahan paper tuntas. Penguatan kapasitas penulis korespondensi oleh institusi agar berlanjut. Setelah itu, penulisan paper dan publikasi ilmiah tidak perlu menghadapi masalah lagi.


Bandung, 23 Juni 2019
Penulis adalah Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN SGD Bandung

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

BANDUNG: TOP 10 PUBLIKASI INDEX SCOPUS