-->

Notification

×

Iklan

Iklan

CONTOH PENDAHULUAN ARTIKEL ILMIAH

Thursday, May 7, 2020 | 11:23:00 AM WIB Last Updated 2020-05-07T04:23:32Z















Penyebaran Covid-19 sangat menakutkan semua pihak. Semula muncul di Wuhan, Cina (Shi, et al., 2020), yang kemudian menyebar ke berbagai negara hingga menimbukan kasus ribuan manusia meninggal dunia (Mahase, 2020). Segera setelah organisasi kesehatan dunia mengumumkan Covid 19 sebagai pandemi (Sohrabi, et al., 2020), semua pihak turun tangan menyatakan perang lawan wabah yang mematikan ini (Darmalaksana, 2020). Semua kalangan bahu-membahu berusaha menemukan formula terbaik pencegahan Covid-19 dari berbagai disiplin ilmu keilmuan (L & Shindo, 2020), termasuk bidang keagamaan Islam.
Al-Qur'an dan hadis, yang menjadi sumber Suci umat muslim (Darmalaksana, Pahala, & Soetari, 2017), diyakini mengandung makna yang melimpah untuk mengatasi berbagai persoalan kehidupan di segala zaman. Sejak di masa klasik, para ulama telah berusaha mengembangkan berbagai perangkat metodologis untuk menggali makna yang terkandung di dalam teks Suci, baik Al-Qur'an maupun hadis. Melalui penggalian yang serius terhadap kedalaman kandungan Al-Qur'an dan hadis, makna teks Suci diakui senantasa relevan dengan situasi dan kondisi masa depan.
Syahid ma'nawi merupakan subjek penting dalam upaya memberikan pemaknaan terhadap hadis, sumber Suci kedua setelah Al-Qur’an (Darmalaksana, Pahala, & Soetari, 2017). Secara teoritis, syahid ma'nawi telah mendapat penjelasan yang luas dalam ilmu hadis (Soetari Ad, 2015). Hampir dapat dipastikan bahwa seluruh rujukan materi ilmu hadis didalamnya membahas tentang syahid (Soetari Ad, 1994), dan secara spesifik syahid ma'nawi. Secara metodologis, syahid ma'nawi berfungsi untuk menguatkan teks (matan) hadis dengan matan hadis lain yang berbeda secara lafadz tetapi mempunyai kesamaan dari segi makna (Fattah, Abdul Majid, & Asmadi Sakat, 2013). Penguatan matan hadis dengan matan hadis lain melalui pendekatan syahid ma'nawi dalam metodologi ilmu hadis (Nadhiran, 2014) telah lazim dilakukan oleh para ulama dan sarjana hadis.
Hadis tentang penyakit menular dijumpai dalam beberapa kitab mashadir ashliah (al-Bukhārī, 1987). Hadis ini disertai hadis-hadis lain (al-Qazwinī, 2010) yang meskipun berbeda secara lafadz, namun masing-masing saling menguatkan dilihat dari kesamaan makna menurut sudut pandang syahid ma'nawi dalam kajian ilmu hadis. Dalam hal ini, pemaknaan hadis-hadis tentang penyakit menular dapat dipahami sebagai subjek yang memiliki relevansi dengan kenyataan zaman modern (Goje, 2017), khususnya penyebaran pandemic Covid-19 sekarang ini (Darmalaksana, 2020).
Penelitian seputar pandemic Covid-19 dari dunia medis sedang terus berlangsung (L & Shindo, 2020). Penelitian tentang wabah ini juga dilakukan dari perspektif sosial secara lebih luar (Long, 2020). Dijumpai pula penelitian yang dilakukan oleh Goje (2017) tentang pencegahan wabah menular perspektif hadis. Penelitian ini membahas isolasi dan karantina medis untuk pencegahan penyakit menular sebagai hal yang dijustifikasi menurut hadis (Goje, 2017). Secara spesifik, Darmalaksana (2020) membahas hadis tentang wabah penyakit berkenaan dengan penerapan social distancing (menjaga jarak sosial). Penelitian tersebut mengakui konsep social distancing sebagai original dari Nabi Saw. (Darmalaksana, 2020). Akan tetapi, penelitian tampak belum dijumpai berkenaan dengan pembahasan hadis tentang penyakit menular melalui perspektif syahid ma'nawi relevansinya dengan pencegahan Covid-19.
Ada tiga pertanyaan dalam penelitian ini, yaitu: bagaimana syahid ma'nawi dalam perspektif ilmu hadis; bagaiman hadis syahid ma'nawi tentang penyakit menular; dan bagaimana hadis syahid ma'nawi tentang penyakit menular relevansinya dengan Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk membahas relevansi hadis syahid ma'nawi tentang penyakit menular dengan Covid-19. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat untuk pemahaman ilmu hadis berkenaan dengan syahid ma'nawi di satu sisi, dan pemahaman makna hadis relevansinya dengan Covid-19.





Bibliography

al-Bukhārī, M. b. (1987). Al-Jāmi‘ al-aī al-Mukhtaar. Beirut: Dār al-Ibn Kathīr, 3rd edition.
al-Qazwinī, M. b. (2010). Sunan Ibn Majāh. Dār al-Iya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Darmalaksana, W. (2020). Corona Hadis. Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Darmalaksana, W., Pahala, L., & Soetari, E. (2017). Kontroversi Hadis sebagai Sumber Hukum Islam. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya.
Fattah, M., Abdul Majid, L., & Asmadi Sakat, A. (2013). Understanding The Sunnah Prophet S.A.W. Through Combined Methodology of Takhrij Hadis & Mukhtalif Hadis. Jurnal Hadhari, 189.
Goje, K. (2017). Preventative Prophetic Guidance in Infection and Quarantine . Journal of Ushuluddin.
Long, N. J. (2020). From social distancing to social containment: reimagining sociality for the coronavirus pandemic . Medicine Anthropology Theory.
Nadhiran, H. (2014). Kritik Sanad Hadis: Tela’ah Metodologis. Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin, Pemikiran, dan Fenomena, 8.
Soetari Ad, E. (1994). Ilmu Hadis. Bandung: Amal Bakti Press.
Soetari Ad, E. (2015). Syarah dan Kritik Hadis dengan Metode Tahrij: Teori dan Aplikasi. Bandung: Yayasan Amal Bakti Gombong Layang, Edisi Ke-2.




×
Berita Terbaru Update