Memulai Menulis Harus Percaya Diri, Tulislah Hal Sederhana

 

 
 
 
Ketika seseorang akan memulai mengetik pasti ia menyaksikan kursor yang berkedip-kedip pada halaman kosong di layar monitor komputer. Seseorang bisa saja kebingungan dalam hal apa yang hendak ditulis dan dari mana memulai menulis. Boleh jadi selama 50 menit berlangsung hanya diperoleh 250 karakter.
 
Paling utama harus percaya diri. Semua penulis profesional tidak ujug-ujug hebat. Tulis sesuatu yang sederhana. Tentukan sasaran pembaca yang biasanya merupakan kalangan dari lingkup ilmu bidang spesifik. Upayakan jangan memulai menulis dari latar belakang dan masalah.
 
Mulailah menulis dari tinjauan pustaka. Pembahasan suatu topik pasti berhubungan dengan temuan-temuan penelitian terdahulu. Tinjauan pustaka berperan dalam menempatkan posisi penulis apakah menolak, mendukung, dan mensintesis. Tinjauan pustaka minimal tiga penelitian terdahulu yang paling berhubungan secara spesifik.
 
Tinjauan pustaka akan memberikan gambaran suatu topik. Dari gambaran tersebut pasti terdapat celah sebagai fokus penelitian bagi pembahasan lebih lanjut.
 
Setelah menemukan fokus studi, langkah selanjutnya penyusunan alur logis secara garis besar berjalannya penelitian. Ini bisa dibagi tiga hal, yaitu kepala, tubuh, dan kaki. Pembagian tersebut merupakan analogi sebuah penalaran dari atas, tengah, dan bawah.
 
Tiba di situ, peneliti akan memiliki hipotesis bila penelitian jenis kuantitatif dan asumsi (prediksi) bila penelitian jenis kualitatif. Secara umum, hipotesis dan prediksi adalah rumusan masalah. Prediksikanlah tentang sesuatu yang pembahasannya akan mengikuti alur logis jalannya penelitian tadi. Prediksi ini pasti mengandung sebuah pertanyaan. Ajukanlah satu pertanyaan utama tunggal. Praktis, tujuan penelitian ini adalah menjawab pertanyaan dan membuktikan prediksi. Ketika menulis tentang sesuatu pasti memiliki sasaran pembaca dari bidang tertentu. Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan yang merupakan hasil penelitian dan pembahasan serta tujuan penelitian ini hendaknya memiliki implikasi manfaat spesifik bagi sasaran pembaca yang spesifik pula.
 
Ketika rumusan masalah, pertanyaan penelitian, dan tujuan penelitian telah ditetapkan secara clear –tidak ambigu tetapi tegas, selanjutnya peneliti pasti bisa menentukan metode penelitian yang tepat. Metode penelitian sendiri dipahami sebagai skenario bagaimana penelitian dijalankan. Bisa jenis kualitatif atau jenis kuantitatif. Bisa pula gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Selain jenis penelitian, tentukan pula metode dan pendekatan analitis.
 
Tiba saatnya menampilkan hasil dan pembahasan. Jenis penelitian kuantitatif biasanya menampilkan hasil yang nyata. Hasil bisa diwakili oleh angka yang diukur dari penghitungan statistik. Setelah ditampilkan kemudian hasil penelitian diabstraksikan secara apa adanya. Selanjutnya, peneliti melakukan pembahasan terhadap hasil tersebut melalui interpretasi dengan menerapkan pendekatan analitis yang telah ditetapkan.
 
Jenis penelitian kualitatif biasanya tidak menuntut penampilan hasil sebagaimana pada penelitian kuantitatif, tetapi langsung pembahasan. Pembahasan ini berupa jawaban atas pertanyaan yang dijanjikan di bagian pendahuluan. Pembahasan hendaknya mengikuti alur logis yang telah dirancang di bagian pendahuluan tadi, yaitu dimulai dari pembahasan mengenai kepala (atas), pembahasan bagian tubuh (tengah), dan terakhir pembahasan bagian kaki (bawah). Seperti piramida terbalik, yakni pembahasan berangkat dari hal umum menuju hal yang khusus. Berkenaan dengan ini, peneliti berperan memaparkan konsep-konsep teoritis yang relatif telah ajeg dari berbagai sumber kutipan. Konsep-konsep teoritis akan disertai pandangan-pandangan pengembangan dari sejumlah kalangan yang ditemukan pada penelitian-penelitian terdahulu. Tugas peneliti melakukan analisis terhadap pandangan-pandangan tersebut dalam bentuk penolakan, dukungan, atau sintesis hingga menghasilkan argumen. Argumen pasti original sebab bukan argumen namanya bila tidak original. Argumen inilah yang menjadi temuan penelitian, yakni yang semula merupakan deretan informasi kemudian setelah dilakukan analisis terhadap informasi-informasi tersebut maka ia menjadi pengetahuan. Dengan adanya argumen ini, maka prediksi yang dikemukakan terdahulu di bagian pendahuluan menjadi terbukti, pertanyaan penelitian yang dijanjikan sebelumnya menjadi terjawab, dan argumen ini pun berperan memastikan bahwa penelitian telah sampai pada tujuan penelitian. Tentunya, temuan ini pasti merupakan suatu kebaruan (novelty) yang menghantarkan cipta rasa (state of the art) tertentu bagi sasaran pembaca secara spesifik.
 
Setelah pembahasan giliran mengambil hasil akhir sebagai kesimpulan. Pastikan hasil akhir ini bermanfaat bagi khalayak tertentu. Sebutkan secara jujur keterbatasan penelitian sehingga menjadi peluang bagi ruang penelitian selanjutnya. Terakhir, rekomendasikan hasil penelitian bagi penentu kebijakan.
 
 
Demikian, tulislah hal sederhana jangan memulai latihan menulis tentang hal yang kompleks. Sajikan secara sederhana pula dalam arti tulisan menggunakan bahasa yang dapat dipahami dengan mudah oleh sasaran pembaca. Sampaikan ide, maksud, dan tujuan yang boleh jadi topik yang disajikan telah banyak dibahas oleh orang lain, tetapi penulis dapat memberikan suatu perspektif yang lain. Siapa sangka perspektif kecil yang sederhana ternyata ditunggu banyak khalayak secara tak diduga-duga. Jadi percaya dirilah ketika memulai menulis.
 
 
 
Bandung, 13 Februari 2021
Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

LATIHAN MENYUSUN PETA KONSEP PENELITIAN SKRIPSI