Aku Mahasiswa Generasi Zoom

 

Oleh:
Wahyudin Darmalaksana

Aku bayangkan jadi mahasiswa. Aku tak bermasukd menarik ke masa lalu pada pengalamanku ke dalam perspektif historis yang jauh ketika menjadi mahasiswa. Sebab, situasi 30 tahun lalu berbeda dengan kondisi sekarang. Saat itu era papan tulis. Saat ini sudah banyak yang berubah. Banyak hal yang benar-benar baru. Banyak hal tak terduga. Terlebih saat datang Covid, seluruh kuliah dilaksanakan daring. Mahasiswa tidak bertemu langsung dengan teman. Kuliah memakai Zoom atau Google Meet.
 
Tiap semester mahasiswa selesaikan 24 sistem kredit semester, SKS, kisaran 12 mata kuliah. Kecuali semester delapan karena hanya tersisa penulisan skripsi saja. Tiap mata kuliah biasanya ada tugas membuat paper atau makalah. Berarti mahasiswa membuat 12 makalah dalam satu semester. Bagi mahasiswa, semasa kuliah pasti merupakan hari-hari yang padat. Padatnya aktifitas ditambah lagi dengan matrikulasi yang tidak termasuk SKS tapi harus lulus seperti kursus bahasa asing. Ada juga kursus-kursus yang diikuti menurut pilihan sendiri. Lebih sibuk lagi bila mahasiswa aktif di kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler. Di semester enam praktik lapangan, PPL, di semester tujuh kuliah kerja nyata, KKN, dan di semester delapan bimbingan skripsi. Sebelumnya, mengajukan proposal skripsi, menghubungi dosen pembimbing akademik, dan seminar proposal penelitian. Juga ujian komprehensif dan sidang tugas akhir. Ini semua hanya yang tercatat dari seluruh aktivitas mahasiswa yang seabrek.
 
Untuk buat makalah, ujian tengah semester, ujian akhir semester dan skripsi perlu laptop. Di masa lalu gak ada laptop. Untuk kuliah daring perlu kuota. Untuk menjalani semua butuh energi dan motivasi yang tinggi. Motivasi dari dalam diri dan energi dari sumbu jiwa. Sekaligus motivasi dari lingkungan dan energi semesta. Mahasiswa didorong belajar mandiri untuk tidak tergantung kepada yang lain dalam menghadapi tantangan yang dihadapinya. Memang bantuan dari teman pasti ada untuk hal-hal tertentu. Karena jiwa saling menolong pasti ada di setiap orang. Hanya kemandirian menjadi pembelajaran yang sesungguhnya di mahasiswa. Dari kemandirian mahasiswa belajar menjadi insan akademik yang otonom. Berdiri di atas kaki sendiri memiliki dedikasi, integritas, kapabelitas, reputasi, dan prestasi. Baik prestasi akademik maupun non akademik. Dari otonomi ini mahasiswa belajar memiliki otoritas. Terutama otoritas ilmu yang diminatinya. Sesuai jurusan masing-masing dan sesuai bidang ilmu yang dicintainya. Itu sebabnya disajikan mata kuliah kode universitas, kode fakultas, dan kode jurusan. Selain kode etik. Hingga mahasiswa raih rekognisi di tingkat lokal, nasional, dan regional. Beberapa tampak meraih pengakuan internasional.

Di akhir semester mahasiswa senang karena liburan tiba. Selama liburan mahasiswa bisa menunda sementara segala aktifitas yang amat padat. Jadi bisa rileks sebentar. Tapi ada juga yang memanfaatkan masa jeda untuk mencoba pengalaman kerja. Banyak pula mahasiswa kuliah nyambi kerja. Bantu orang tua, biaya uang kuliah tunggal (UKT) bayar sendiri, tanpa beasiswa. Setelah usai libur semester kembali lagi ke aktifitas semula. Dimulai nengok nilai di portal akademik, “kaeresan” (ngisi aplikasi kartu rencana studi, KRS), kontrak pembelajaran, baca silabus, dan sibuk perkuliahan. Semua mahasiswa tergerak memantau portal akademik. Siapa tau ada nilai mata kuliah yang belum ke luar. Siapa tau ada nilai mata kuliah yang tidak lulus. Hingga mesti her-registrasi untuk mengikuti kuliah semester pendek. Nilai di portal akademik tidak lepas dari pantauan secara berkala. Agar eligibel. Agar tidak masalah dengan penomoran ijazah nasional, PIN. Mahasiswa dipacu mesti lulus tepat waktu, mesti mengantongi indek prestasi kumulatif (IPK) lebih dari angka tiga. Untuk persiapan persaingan dunia kerja. Untuk studi lanjut. Di dalam negeri atau luar negeri. Lebih dari itu, mesti punya SKPI, surat keterangan pendamping ijazah. Juga kelengkapan portofolio jejak akademik.
 
Hari ini mahasiswa benar-benar sibuk. Aktivitas mahasiswa amat padat. Kiranya perlu juga ada latihan manajemen waktu. Latihan dengan cara yang menyenangkan. Perlu ada juga latihan self healing agar kuliah serasa ringan. Latihan mengelola energi murni. Belajar berdamai dengan realitas. Sebab, gak boleh stress dan jangan patah semangat. Hari ini ada merdeka belajar dalam lanskap kampus merdeka. Mahasiswa merdeka memilih bidang yang diminatinya sebesar 40 SKS. Dari sekitar 114 SKS yang mesti dipenuhi untuk jenjang sarjana. Di situ mahasiswa bisa mengembangkan kemampuan kapasitas keterampilan. Agar memiliki keterampilan khusus selaras dengan kemampuan berpikir kritis. Agar kreatifitas direntang tanpa batas. Agar penuh dengan inovasi, anugerah dan penghargaan. Dengan hati riang juga gembira.
 
Tiba di sini, mahsiswa perlu dituntun. Bukan dituntut. Tuntutannya sudah amat banyak. Perlu didampingi. Didampingi menulis tugas akhir. Paragraf demi paragraf. Perlu mendapat layanan prima. Layanan dengan nilai-nilai khidmat. Mereka adalah pusat. Pusat pembelajaran. Itu sebabnya ada student center. Mereka adalah generasi hebat. Generasi teknologi informasi yang akan menggunakan platform aplikasi yang belum ditemukan. Aplikasi yang belum terbayangkan. Mereka generasi masa depan. Generasi yang akan mengisi peradaban. Generasi mumpuni menuju era emas. Karena itu, perlu tercipta atmosfer akademik yang hebat. Semua memasuki atmosfer itu tidak terkecuali. Sebuah ekuilibrium dengan aksesibilitas yang merata untuk semua. 

Syarat utama tetap bahagia. Karena bahagia merupakan anugerah Tuhan yang dilekatkan pada tiap manusia sejak azali. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk tidak bahagia sesibuk apapun, sepadat apapun, bahkan sesedih apapun. Juga tiap orang diciptakan Tuhan secara unik, potensial, dan spesial. Tiap orang pasti punya mutiara. Pasti punya hal berharga. Karena itu tidak boleh saling menjatuhkan dalam berdaya saing. Tapi harus menguatkan kemitraan, kerjasama, dan kolaborasi. Melalui kolaborasi maka bisa saling menuntun dan saling mendampingi. Sukses bersama dan sama-sama sukses. Masa depan diisi bersama, disiapkan bersama. Menuju dan menjalani tujuan bersama. Tujuan yang dijaga dan dicita-citakan bersama. Karenanya, jangan lupa bahagia.
 
Jika boleh berpesan, maka jalani hidup ini. Buat rencana yang strategis. Evaluasi hari-hari kita ke belakang. Hidup ini dijalani ke depan. Tapi evaluasi dipahami ke belakang. Tidak usah mengeluh pada kekurangan dan keterbatasan tapi mantapkan kekuatan. Ambil peluang. Tentukan target dan goal. Tetapi tidak boleh terlalu terpaku dan terpaut pada hasil. Karena pasti sedih kalau hasil tidak tercapai. Yang penting lakukan yang bisa dikerjakan semaksimal yang dapat ditunaikan. Adapun hasil serahkan kepada Allah. Juga katakan dengan khusyu di hati terdalam “Ya Allah, aku cinta engkau. Sayangilah aku. Bimbinglah aku menggapai cita-cita.” Selalu gunakan perspektif baru. Perspektif yang memandang teman-teman di sekeliling merupakan orang baik. Dilihat dengan kacamata positif. Biar kita dapat hikmah. Dapat semangat baru. Paradigma baru. Lalu, doakan agar semua kita selamat, maslahat, dan sukses.
 
Aku bayangkan menjadi mahasiswa. Sibuk dan padat output tanpa ekspektasi berlebih di luar kapasitas. Untuk semua Allah memberi kapasitas yang besar. Kita asah. Kita tempa. Kita kembangkan dengan hati yang tentram. Hilangkan gelisah. Sejuk dari dalam jiwa. Jangan banyak begadang, makan teratur, sembahyang. Jadilah pribadi yang kuat. Pribadi yang paling kuat bertahan di tengah disrupsi. Pribadi yang adaptif pada perubahan dan siap dengan tantangan revolusi 5.0. Meski hampir semua aktifitas serba daring. Yakin Allah selalu memberi jalan terbaik. Di tengah seluruh anggota keluarga yang selalu mencinta. Senatiasa medoakan kita untuk kebaikan. Dan tidak boleh lupa di masa Covid ini tetap kesehatan nomorsatu. Kami tunggu di pintu gerbang wisuda.
 
 
Bandung, 05 Desember 2021
 

Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

LATIHAN MENULIS PENDAHULUAN ARTIKEL ILMIAH