-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Kemampuan Menulis Ilmiah sebagai Bekal Mahasiswa Disoroti dalam Talk Show Veloria Littera

Monday, June 29, 2026 | 10:54:00 AM WIB Last Updated 2026-06-29T03:54:37Z

 


KELAS MENULIS -- Kemampuan menulis ilmiah menjadi sorotan pada talk show bertajuk “The Academic Vanguard: Leading Innovation Throughout Research and Content” yang diadakan di Aula Abdjan Soelaeman, Kampus 1 UIN SGD Bandung pada Sabtu (13/6/2026). Talk show oleh jurusan Sastra Inggris ini merupakan salah satu rangkaian dari Dies Natalis nya yang ke-28 dengan nama Veloria Littera, membahas mengenai pentingnya literasi yang berlanjut pada penulisan ilmiah.




Ketua Pelaksana talk show, Fazar Sidik, menyarankan mahasiswa agar menyempatkan waktunya untuk membaca. Ia berpendapat bahwa wawasan tidak sekadar didapat dari pengalaman, tetapi juga diperoleh lewat literasi. Pendapat itulah yang membuatnya menelusuri kebutuhan mahasiswa. Setelah ditelusuri, tema literasi dan kepenulisan ilmiah ia anggap relevan. “Banyak mahasiswa terutama dari semester atas yang bingung akan kepenulisan ilmiah yang baik dan benar,” ungkapnya saat ditemui Suaka usai acara, Sabtu (13/6/2026).




Bintang tamu acara tersbut, Wahyudin Darmalaksana, menyatakan bahwa kepenulisan ilmiah adalah kemampuan umum yang harus dimiliki mahasiswa. “Kemampuan itu dibutuhkan sejak awal agar mahasiswa tidak kesulitan bahkan stres dalam membuat tugas akhir,” jelasnya. Ia berpendapat bahwa kepenulisan ilmiah lebih efektif dipelajari lewat pelatihan menulis. Namun sebelum berlatih menulis, harus ada motivasi yang mendorong mahasiswa agar mau menulis.




Lebih lanjut, Wahyudin menggarisbawahi kata motivasi karena ia terinspirasi dari writing lab di Universitas Leiden, Belanda. “Mahasiswa di sana didorong bahwa mereka potensial. Kalau sudah termotivasi, mahasiswa akan semangat dan percaya bahwa mereka bisa menulis,” ujarnya. Wahyudin menambahkan bahwa kepenulisan ilmiah jangan hanya dijadikan tugas akhir, namun sebaiknya dijadikan latihan untuk mengukur kemampuan diri. 




Tak hanya itu, Ia juga menegaskan bahwa kepenulisan ilmiah tidak seharusnya menjadi tugas mata kuliah. “Mahasiswa sudah menanggung banyak tugas, jangan dibebani lagi dengan tugas artikel ilmiah,” pesannya. Ia melihat bahwa substansi menulis ilmiah lebih penting daripada penugasan formal. Ia juga memandang proses menulis akan berjalan lebih mudah jika dipelajari bersama-sama, sehingga mahasiswa tidak merasa berproses sendiri.




Pandangan itulah yang melatarbelakangi upaya Wahyudin dalam mengkampanyekan kepenulisan ilmiah. Menurutnya, secara umum semua jurusan memiliki dasar yang sama dalam menulis ilmiah. Hal itulah yang membuatnya bersedia diundang ke talk show, walau Sastra Inggris selaku penyelenggara adalah jurusan dari rumpun humaniora, sesuatu di luar bidangnya. “Talk show ini membicarakan bagaimana hasil riset dan inovasi disebarluaskan ke masyarakat,” katanya. 




Menurut salah satu panitia, Anindia Lailatul Azkia, tajuk acara ini tetap sejalan dengan gagasan literasi yang diusung. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, panitia tidak hanya mengadakan talk show yang memantik pemikiran mahasiswa, tetapi juga mengaitkannya dengan bazar buku yang bertujuan meningkatkan daya baca mahasiswa. “Literasi bukan sekadar mengeja kata di atas kertas, tetapi juga kemampuan membedah realitas dan mengolahnya menjadi karya,” ucapnya.




Peserta talk show, Zikronaufar mengaku tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena ingin belajar cara dan motivasi menulis ilmiah ala Wahyudin. Dari acara ini, Zikronaufar belajar bahwa literasi membuka ruang pikiran terhadap hal-hal yang belum diketahui. “Semoga Veloria Littera diadakan lagi karena acara seperti ini dapat mendorong mahasiswa dalam berliterasi bersama,” harapnya.




Reporter: Hukma Shabiyya/Magang


Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka




Sumber, SUAKAONLINE.COM 18 Juni 2026 

×
Berita Terbaru Update