Mengelola Stress Efek Tekanan Publikasi

Abad 21 merupakan era "terburu-buru". Semua harus segera. Jika tidak, maka ditinggalkan kereta. Bangun pagi, finger print, mengajar, memberi nilai, penelitian, menulis paper, publikasi ilmiah, BKD/LKD dan lain-lain. Ini gambaran akademisi hari ini. Tak heran bila timbul stress.

Namun ada pepatah Arab mengatakan “kehilangan gairah lebih bahaya daripada stress”. Berbicara “gairah” kita coba serahkan ke agama. Adapun stress kita bicarakan dalam lingkup psikologi-sosial. Nanti psikologi-sosial berbicara tentang manajemen stress. Menurut agama, semua manusia telah diberi modal dasar berwujud potensi gairah dari Tuhan sejak azali. Gairah akan terus “menyala” kecuali terhalang tabir. Manusia harus meminggirkan tabir penghalang agar gairah memancar. Dengan demikin, se-stress apapun tidak boleh kehilangan gairah.

Stress disebabkan tekanan. Globalisasi telah menekan public. Bahkan, hingga ruang privat. Semua pihak dituntut adaptasi terhadap globalisasi. Tekanan tidak bisa dihindarkan. Solusinya adalah mengelola stress untuk menghasilkan tindakan berharga.

Menurut laporan, keharusan publikasi telah menimbulkan stress di kalangan akademisi. Bahayanya, hilang gairah pula. Membuka gairah yang efektif itu dengan tasbih. Ini dapat dilaksanakan dalam sibuk. Kita bisa presentasi paper sambal bertasbih. Orasi tetap berlangsung dan bersamaan dengan itu hati terus mewiridkan zikir dengan gencar. Praktis tekanan menjadi teratasi seiring memancarnya gairah. Dengan itu, tekanan publikasi menjadi stress yang mengasyikan.

Bagaimana tidak mengasyikan ketika stress menulis paper berkejaran dengan waktu. “The power of deadline” istilahnya. Ini akan membuka pengetahuan bagaimana membuat abstrak, menyusun tubuh paper meliputi pendahuluan, literature review, menentukan metode, menulis hasil dan diskusi, dan mengambil kesimpulan. “Faidza faraghta fanshab” (bila ada waktu kosong, isilah). Sebab, gempuran abad 21 sangat cerdik menyusup pada celah kosong. Kita akan menjadi sangat sibuk. Menulis paper itu efektif di celah-celah kosong.

Memang abad 21 mencipta “terburu-buru”. Namun kita masih bisa mencipta ruang tenang. Ruang untuk menulis paper. Diakui menulis paper itu tekanan. Stress timbul. Tapi tidak boleh hilang gairah. Setelah paper terbit di jurnal di situlah selebrasi. Selebrasi itu akumulasi gairah, tekanan-tekanan, dan pencapaian.

Wahyudin Darmalaksana
Puslitpen LP2M UIN SGD

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN