PENGANTAR BIMBINGAN SKRIPSI

Saya telah menulis beberapa catatan kecil mengenai skripsi. Ketika membuat tulisan-tulisan disadari bahwa saya selaku dosen dituntut untuk konsisten dalam memberikan bimbingan skripsi. Meskipun konsistensi cukup pelik dipertahankan mengingat terdapat ragam cara pandang yang senantiasa berubah-ubah sehingga menuntut kita setuju atau tidak setuju terhadap perkembangan cara pandang. Terlebih lagi yang terkait dengan tips dan bimbingan teknis dipastikan selalu dikembangkan untuk menemukan teknik yang paling efektif dalam penulisan penelitian skripsi.

Secara prinsip dan teknis penulisan skripsi tetap mesti mengacu kepada pedoman yang berlaku. Namun, terkadang pedoman dan petunjuk teknis selalu terdapat bagian-bagian yang pelik diaplikasikan. Tidak jarang pula peneliti mengacu kepada penulisan skripsi yang telah ada. Hal ini tidak menjadi persoalan karena terdapat banyak skripsi yang baik dan patut ditiru. Namun, hasil skripsi tidak semua dapat ditiru. Sebab, hasil sekripsi tidak sedikit pula yang kurang memadai dan kerap dijumpai pula suatu kekeliruan yang tidak sesuai dengan acuan pedoman. Oleh karena itu, catatan seputar penulisan skripsi dipandang penting untuk memberikan bimbingan, baik langsung maupun tidak langsung.

Belakangan ini saya telah membuat kekeliruan yakni tidak konsisten dalam memberikan arahan untuk menyusun latarbelakang masalah. Di tulisan pertama saya mengarahkan agar di latarbelakang masalah untuk ditulisan kesenjangan antara keharusan dan kenyataan. Hal ini disadari karena saya dipengaruhi oleh penelitian eksperimen. Di tulisan lainnya saya tidak menganjurkan disebutkannya kesenjangan antara keharusan dan kenyataan di latarbelakang masalah khusus untuk penelitian konseptual. Memang diakui kita harus mampu menyelesaikan masalah melalui penelitian. Namun, disadari bahwa tidak seluruh penelitian bertujuan untuk mengubah masyarakat. Tidak semua masalah penelitian karena adanya kesenjangan antara keharusan dan kenyataan. Penelitian konseptual tidak perlu mendasarkan masalah dari kesenjangan. Bakan, penelitian konseptual yang mendasarkan latarbelakang masalah pada fenomena kesenjangan secara ekstrem dapat dikatakan salah kaprah. Sebab, fenomena kesenjangan di masyarakat bagi penelitian konseptual bukanlah subjek yang hendak diselesaikan. Secara ekstrem pula dapat dikatakan bahwa penelitian konseptual tidak perlu bahkan tidak boleh mendasarkan pada fenomena masyarakat sekalipun hanya untuk menggiring ke masalah penelitian. Tidak boleh karena penelitian konseptual menjadi penting dilaksanakan bukanlah adanya masalah yang fenomenal di masyarakat, melainkan terkait dengan persoalan konsepsional yang memerlukan penjelasan secara mendalam.

Kecuali itu, peneliti akan menggunakan mixed method dalam metodologi penelitiannya. Mixed method adalah suatu gabungan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif yang lazim disebut penelitian inter-disipliner. Hanya saja bagi peminat ilmu-ilmu dasar (murni) --yang dibedakan dengan ilmu-ilmu terapan-- harus kuat dalam basis penelitian kualitatif. Baru untuk sebuah pengembangan mereka dapat belajar ilmu-ilmu pengukuran semisal statistik dalam upaya menggabungkan metode penelitian antara kualitatif dan kuantitatif yang disebut mixed method tadi.

Meskipun bersifat kualitatif, namun penelitian konseptual dapat digunakan dua langkah sekaligus, yaitu studi literatur (pustaka) dan studi lapangan. Hanya saja studi lapangan di sini bukan untuk mengambil data-data kuantitatif, melainkan tetap untuk mengambil data-data kualitatif. Ini bukan mixed method melainkan dua langkah penelitian kualitatif berupa pengambilan data dari literatur dan pengambilan data dari lapangan. Beberapa penelitian skripsi rampung dengan hanya menggunakan studi literatur saja. Memang ideal dalam penelitian konseptual digunakan dua langkah sekaligus yakni studi literatur dan studi lapangan sebagai pengembangan.

Di suatu catatan saya menyebut penelitian konseptual dengan istilah penelitian teoritis yang dibedakan dengan penelitian praktis. Namun, penyebutan penelitian teoritis khawatir terlalu pelik untuk digambarkan. Padahal, sama saja yang saya maksudkan dengan penelitian teoritis ialah penelitian konseotual. Di sini, antara penelitian teoritis dan penelitian koseptual merupakan itu-itu juga.

Selebihnya diharapkan kepada adik-adik mahasiswa untuk melaksanakan bimbingan intensif. Bimbingan mendadak ketika hendak menulis proposal skripsi tidak cukup harus dimulai sejak awal-awal perkuliahan. Penulisan skripsi dilatih dari awal melalui latihan-latihan menulis makalah. Jika latihan-latihan menulis makalah dilalui secara tepat, maka relatif tidak akan ditemukan kesulitan-kesulitan menulis penelitian skripsi. Sebab, makalah dapat dikatakan sebagai miniatur skripsi. Belajar membuat miniatur terlebih dahulu di awal-awal perkualiahan baru di masa akhir menulis skripsi dengan lancar, gembira, dan bahagia.

Tulisan ringan ini menjadi bagian dari tulisan-tulisan saya sebelumnya dan tidak bisa dipisahkan. Juga tidak bisa dipisahkan insya Allah dengan tulisan-tulisan saya di masa depan, meskipun dipastikan dilakukan koreksi-koreksi atau dilakukan pengembangan. Tulisan ini lebih banyak diperoleh dari pengalaman melakukan bimbingan skripsi dan dipandang perlu dituliskan dengan gaya yang tidak terlalu formal dalam rangka menghindari kasus-kasus serupa dalam pelaksanaan bimbingan. Saya bisa bertanya kepada adik-adik mahasiswa yang hendak bimbingan skripsi "apakah sudah membaca catatan-catatan kecil saya?" Harapan saya tulisan-tulisan kecil tersebut dapat mengantarkan mahasiswa kepada tujuan yang hendak dicapainya.

Selebihnya, sejumlah catatan saya mengenai skripsi bermakna pula sebagai konfirmasi kepada sesama dosen selaku pembimbing yang dipastikan dapat memberikan catatan-catatan untuk perbaikan. Ini yang bisa saya persembahkan untuk mengantarkan generasi ke masa depan.


Makassar, 18 Nopember 2019
Yudi W. Darmalaksana


Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

BANDUNG: TOP 10 PUBLIKASI INDEX SCOPUS