Bantuan cara penulisan bagi mahasiswa, 5 langkah menyiapkan naskah artikel yang layak terbit di jurnal

 
Ilustrasi seoanaksholeh.com






Artikel bukan karena ide besar. Bukan pula karena panjang halaman. Paling pertama artikel ditentukan kerapian. Meskipun ide besar, walaupun halamannya panjang, namun tidak rapi pasti artikel ditolak oleh pengelola jurnal untuk diterbitkan.
 
Ambil topik sederhana dan tulis dengan rapi. Sederhana dan rapi adalah penelitian dalam arti yang sebenarnya. Sebab, di situ terdapat kecermatan, kehati-hatian, dan ketelitian. Bukan penelitian hebat bila tidak rapi.
 
Kelas menulis diselenggarakan di berbagai pendidikan tinggi maju tingkat global. Kelas ini bertujuan memberikan bantuan kepada mahasiswa dalam penulisan artikel. Mahasiswa diarahkan melakukan latihan penulisan secara sederhana dalam arti topik kecil tetapi menjangkau wilayah yang luas. Dalam hal ini sangat diperhatikan teknis penulisan tak terkecuali kerapian. Justru kerapian mendapat perhatian yang sentral.
 
Tidak perlu naskah besar. Bila seseorang menulis 10 makalah, tetapi tidak ditulis dengan rapi, maka pada dasarnya mereka tidak punya naskah. Saatnya mahasiswa memiliki naskah, meskipun hanya satu naskah artikel selama kuliah. Apabila tidak punya pengalaman menulis naskah, maka mahasiswa dikhawatirkan “kaget” ketika mereka menulis tugas akhir. Padahal, ketentuan tugas akhir gelar sarjana mesti memenuhi syarat penebitan. Sedangkan penerbitan sangat mensyaratkan kerapian.      
 
Tulisan ini bermaksud membantu mahasiswa dalam menyiapkan naskah makalah atau artikel. Paling tidak, ada lima langkah cara menyiapkan naskah artikel yang layak diterbitkan di jurnal.
 
1.  Menentukan Topik
Topik menempati urutan pertama dalam menyiapkan naskah artikel. Cari topik yang sudah banyak dibahas orang lain. Nanti sulit mencari sumber rujukan bila suatu topik belum banyak dibahas. Bukan masalah bila penulis membahas topik yang pernah dibahas orang lain. Baru masalah bila naskah ditulis tidak rapi. Juga tidak perlu topik besar cukup topik sederhana saja. Topik yang akan dibahas tentukan bedanya dengan topik-topik yang telah ada. Bisa jadi penulis mengambil topik yang sama dengan orang lain, tetapi dia menawarkan penyajian dengan perspektif dan cara yang berbeda. Perbedaan ini biasaya yang membuat menarik pembaca, meskipun hanya perbedaan kecil saja.
 
2. Mencari Sumber Rujukan
Naskah artikel tidak mungkin terwujud bila tidak ada sumber rujukan. Saat ini mencari sumber rujukan sangat mudah. Penulis bisa menelusuri repositori. Sumber apapun ada di repositori. Upayakan jangan mencari sumber rujukan yang tidak ada. Karena itu, mengambil topik yang sudah banyak dibahas menjadi peniting, yakni agar tidak sulit mencari sumber rujukan. Sumber rujukan bisa berupa buku atau artikel jurnal. Bisa pula berupa skripsi, tesis, dan disertasi.
 
3. Menerapkan Aplikasi Pengutipan
Penulisan artikel diarahkan menerapkan aplikasi pengutipan standar internasional. Secara garis besar, ada dua jenis aplikasi pengutipan, yaitu internal dan eksternal. Aplikasi internal tersedia di dalam komputer. Aplikasi eksternal berada di luar komputer sehingga perlu dilakukan proses instal. Kedua aplikasi ini direkomendasikan dalam penulisan artikel standar internasional.
 
Bedanya aplikasi internal bersifat manual dan aplikasi eksternal bersifat otomatis. Jadi penerapan aplikasi eksternal lebih mudah. Hanya terkadang dibutuhkan basis pengalaman dari yang manual. Daripada itu, sayang bila aplikasi internal komputer tidak dimanfaatkan, terlebih lagi bila penulis belum melakukan instal aplikasi eksternal.
 
Penerapan aplikasi manual butuh kecermatan, kehati-hatian, dan ketelitian. Pastikan terlebih dahulu jenis sumber rujukan, apakah buku ataukah artikel jurnal. Saat memasukan sumber rujukan ke dalam aplikasi pengutipan tidak boleh tertukar. Masukan ke dalam aplikasi sebagai report, bila sumber rujukan berupa skripsi, tesis, dan disertasi. Sebab, sering terjadi jenis sumber rujukan artikel jurnal dimasukan sebagai buku. Sebaliknya, jenis sumber rujukan buku dimasukan sebagai artikel jurnal.
 
Penggunaan aplikasi manual perlu memperhatikan kolom-kolom pengisian mencakup pengisian nama penulis, judul rujukan, tahun terbitan, penerbit, dan lain-lain. Pengisian ini mesti dilakukan secara cermat, hati-hati, dan teliti. Juga perlu diperhatikan huruf kapital dan huruf kecil dalam penulisan nama orang dan nama tempat. Tidak jarang terjadi penulisan nama orang atau nama tempat tidak diawali huruf kapital.
 
Apakah sampai detail seperti itu? Ya benar, penulisan artikel itu mesti detail, yakni cermat, hati-hati dan teliti. Inilah penelitian yang sebenarnya. Karenanya, tidak perlu topik besar, cukup topik sederhana, tetapi detail.
 
4. Menyusun Kalimat dan Paragraf
Penulisan artikel menganut struktur sejak pendahuluan sampai simpulan. Di dalamnya terdiri atas satuan paragraf. Bahkan, hingga unit terkecil berupa struktur kalimat dalam membentuk paragraf. Unit terkecil lagi yaitu tanda baca.
 
Paling utama dalam penulisan artikel adalah kerapian. Penulis dituntut menulis rapi karena artikel pada akhirnya akan diterbitkan di jurnal. Artikel akan dibaca banyak orang ketika diterbitkan. Jurnal juga pasti tidak mau menerbitkan naskah artikel yang tidak rapi. Jurnal pasti menolak naskah artikel yang tidak rapi untuk diterbitkan. Jika bukan penulis sendiri maka siapa yang akan merapikan tulisan. Memang pihak jurnal menunjuk penelaah, tetapi tugas penelaan bukan memperbaiki artikel, melainkan menilai kelayakan artikel apakah ditolak ataukah diterima untuk diterbitkan. Tujuan penulis menyiapkan naskah artikel adalah untuk diterima dan diterbitkan. Bukan untuk ditolak dan dikembalikan. Karena itu, kerapian perlu diperhatikan. Kerapian menjadi syarat kelayakan artikel diterbitkan di jurnal.
 
5. Cek Plagiasi, Editing, dan Layout
Artikel jurnal memiliki kententuan rata-rata maksimal 20% similarity. Setelah naskah artikel selesai, penulis mesti cek plagiasi untuk melihat similarity. Jika similarity masih besar maka penulis harus melakukan editing.
 
Editing dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pengutipan tidak langsung, paraphrase, dan meringkas. Mula-mula penulis mengambil kitipan secara tidak langsung. Jika kutipan secara tidak langsung masih menyumbang similarity yang besar, maka penulis diarahkan melakukan paraphrase, yakni mengubah kalimat dengan kata-kata sendiri. Jika parapharase pun masih menyumbang similarity yang besar, maka penulis hendaknya meringkas kalimat tanpa mengubah maksud kutipan.
 
Selanjutnya, layout. Setiap jurnal memiliki gaya selingkung. Artikel mesti sesuai dengan gaya selingkung jurnal yang menjadi sasaran penerbitan. Jika tidak sesuai dengan gaya selingkung, maka artikel dipastikan ditolak untuk diterbitkan. Karena itu, artikel mesti dilakukan layout selaras dengan gaya selingkung jurnal. Tidak sampai di situ, bahkan perlu proofreading yaitu membaca naskah dengan cermat. Hendaknya proofreading dilakukan secara berulang-ulang, baik oleh penulis sendiri maupun oleh dua sampai tiga orang sejawat. Hal ini sangat bermanfaat dalam menghindari kesalahan kecil semacam typo.
 
 
Bandung, 23 Januari 2021
Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung
 


Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

60 Ranking Perguruan Tinggi Di Indonesia