Belajar memahami masalah dalam penelitian materi dasar

 


 
 
Menurut KBBI, masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Ketika menulis proposal skripsi, adik-adik mahasiswa peminat materi dasar terkadang masih kebingungan dalam menentukan latar belakang dan masalah penelitian.
 
Tulisan ini semoga memberikan jalan keluar dari kebingungan itu.
 
Jenis Masalah
Masalah penelitian dapat dibagi tiga, yaitu masalah teoritis, masalah empiris, dan masalah kebijakan. 

Pembagian masalah penelitian menjadi tiga dilandasi tiga pembagian materi penelitian, yatu materi dasar, materi terapan, dan materi kebijakan.

Jika masalah penelitian didistribusi ke materi penelitian, maka masalah teoritis bagian dari materi dasar, masalah empiris bagian dari materi terapan, dan masalah kebijakan bagian dari materi kebijakan. 

Materi dasar bidang agama Islam mencakup Alquran, tafsir, hadis, teologi Islam, filsafat Islam, tasawuf, dan lain-lain Materi terpan terangkum dalam bidang sains dan teknologi. Materi kebijakan antara lain kebijakan publik.
 
Masalah teoritis materi dasar Islam, dalam bentuk pertanyaan, misalnya bagaimana memahami tafsir, bagaimana metodologi tafsir, dan bagaimana pendekatan tafsir. Bagaimana teori tentang teologi Islam, bagaimana aliran-aliran teologi Islam, dan bagaimana perdebatan teologi Islam. Bagaimana konsep-konsep filosofis dalam Islam, bagaimana pandangan para filsuf muslim, dan bagaimana perkembangan pemikiran filsafat Islam. Bagaimana teori spiritualitas Islam, bagaimana pandangan tokoh-tokoh sufi, dan bagaimana merasakan kehadiran Tuhan.
 
Masalah empiris materi terapan bidang sains dan teknologi, dalam bentuk pertanyaan, misalnya bagaimana penentuan arah kiblat, bagaimana mencipta produk halal, dan bagaimana perancangan mesin pencarian Teks Alquran dan hadis. Masalah kebijakan materi kebijakan publik, dalam bentuk pertanyaan, misalnya bagaimana pengelolaan lembaga pendidikan, bagaimana peningkatan belajar di era Covid-19, dan bagaimana implementasi normal baru.
 
Keluasan dan Kedalaman Masalah
Masalah penelitian materi dasar, materi terapan, dan materi kebijakan memiliki kedalaman dan keluasan dilihat berdasarkan jenjang S1, S2, dan S3.
 
Masalah penelitian materi dasar yang bersifat teoritis dilihat dari keluasan dan kedalaman meliputi deskripsi bagi jejang S1, konsep bagi jenjang S2, dan postulat atau teori baru bagi jenjang S3. Penelitian materi dasar disebut pula penelitian pemikiran.
 
Masalah penelitian materi terapan yang bersifat empiris dilihat dari keluasan dan kedalaman mencakup prototipe bagi jenjang S1, produk teknologi bagi jenjang S2, dan market (pasar) bagi jenjang S3. Penelitian materi terapan disebut pula observasi.
 
Masalah penelitian materi kebijakan bagi kebutuhan pengampu kebijakan dilihat dari kedalaman dan keluasan meliputi tinjauan peraturan bagi jenjang S1, model legal drafting bagi jenjang S2, dan pengembangan model pengaturan bagi jenjang S3. Penelitian materi kebijakan disebut pula penelitian kebijakan.
 
Keterhubungan Antar-Materi dalam Mengatasi Masalah
Materi penelitian bisa membentuk saling keterhubungan di antara materi dasar, materi terapan, dan materi kebijakan. 

Misalnya, penelitian materi dasar berangkat dari masalah teoritis membahas metode dan pendekatan tafsir. Penelitian materi dasar masalah teoritis ini bisa saja dihubungkan dengan masalah empiris. Misalnya, terdapat ekspresi radikal di dalam realitas sosial akibat pemahaman tekstual (harfiah) terhadap Teks Suci. Bisa pula penelitian materi dasar masalah teoritis ini dihubungkan dengan masalah kebijakan. Misalnya, perlunya pendidikan tinggi menyiapkan materi metode tafsir pendekatan poskolonial di dalam kurikulum.
 
Menghubungkan keseluruhan masalah, yakni masalah teoritis, masalah empiris, dan masalah kebijakan, adalah sebuah wilayah penelitian yang kompleks. Wilayah penelitian yang kompleks seperti itu hanya berlaku bagi peneliti utama.

Jenjang S1 belumlah dituntut memasuki wilayah penelitian yang kompleks. Peminat materi dasar jenjang S1 cukup mendeskripsikan suatu hal. Daripada itu, peminat materi dasar tidaklah dituntut memasuki wilayah penelitian masalah empiris dan masalah kebijakan.
 
Jenjang S1 bidang materi dasar bisa saja menyentuh masalah empiris dan masalah kebijakan. Asalkan di dalam metode penelitiannya menerapkan pula studi lapangan di samping studi pustaka dalam jenis penelitian kualitatif. Konsekuensi dari penerapan studi lapangan di dalam jenis penelitian kualitatif berarti diperlukan pengetahuan dalam pelaksanaan studi lapangan, misalnya berupa pengamatan, dokumentasi, dan wawancara. 

Jenjang S1 bisa pula secara mutlak menerapkan jenis penelitian kuantitaif yang berusaha menghimpun fakta-fakta empiris, hanya saja berarti penelitiannya bukan lagi bermaksud memecahkan masalah teoritis, melainkan bertujuan menyelesaikan masalah empiris dari bidang materi terapan.

Jejang S1 bisa juga menerapkan metode campuran (mixed method), yang menggabungkan jenis kualitatif dan kuantitatif. Akan tetapi, hal ini tentunya dibutuhkan pengetahuan yang memadai tentang pelaksanaan metode campuran.
 
Jalan Keluar Peminat Materi Dasar
Hendaknya peminat materi dasar berfokus pada masalah teoritis saja. Sebab, fokus materi dasar adalah masalah teoritis. 

Peminat materi dasar tidak perlu memaksakan terpaut dengan masalah empiris dan masalah kebijakan. Bidang materi dasar tidak tepat bila berangkat dari masalah empiris dan masalah kebijakan karena yang hendak diselesaikan oleh bidang materi dasar merupakan masalah teoritis. 

Tidak jarang peminat materi dasar mengangkat masalah empiris di dalam latar belakang penelitiannya, namun dalam pembahasannya ternyata tidak melakukan penyelesaian masalah empiris. Karena memang bidang materi dasar tidak mungkin melakukan penyelesaian masalah empiris. Karena itu, peminat materi dasar cukup berangkat dari masalah teoritis saja. Meskipun barangkali ada kesulitan dalam menentukan masalah teoritis ini. Hanya saja kesulitan ini tidak serta merta membolehkan materi dasar mengambil masalah empiris. 

Masalah teoritis tidak selalu dituntut pemecahannya menyangkut wilayah empiris dan di wilayah kebijakan, bila bukan merupakan penelitian yang kompleks.
 
Hendaknya adik-adik mahasiswa peminat materi dasar pada jenjang S1 tidak berangkat dari masalah empiris. Karena yang hendak dipecahkan melalui materi dasar adalah masalah teoritis. 

Bagi peminat materi dasar, memang masalah empiris seringkali memancing hasrat hingga kerap masalah empiris tersebut secara sadar diangkat menjadi bagian dari fokus di latar belakang masalah. Memang yang mudah terlihat sebagai benar-benar masalah biasanya ada di wilayah empiris. Misal, maraknya radikalisme. Hanya saja masalah empiris bukanlah wilayah penelitian materi dasar. Jika bidang materi dasar mengambil masalah empiris tanpa studi lapangan, maka penunjukan masalah empiris merupakan penghakiman. Ini dilarang di dalam penelitian.

Lantas, bagaimana menyelesaikan masalah empiris, maka serahkanlah hal itu kepada peminat materi terapan. Bagi peminat materi dasar daripada tergiur mengangkat masalah empiris, lebih baik melakukan peninjauan secara tajam terhadap logika, metodologi, dan pemikiran yang menjadi pondasi paling mendasar bagi materi dasar di dalam jenis penelitian kualitatif.
 
 
Bandung, 24 Januari 2021
Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
 
 


Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

LATIHAN MENYUSUN PETA KONSEP PENELITIAN SKRIPSI