Mahasiswa Curhat, Ini Ungkapan Pelatih Penulisan Artikel Ilmiah

 



 
Di tengah-tengah latihan penulisan artikel ilmiah, ada mahasiswa yang curhat.
 
"Bapak, maaf selama dua minggu kemarin dan kemungkinan dua minggu kedepan saya belum bisa muncul dulu di grup ketika bapak menjelaskan, karena terbentur banyaknya tugas sebelum UAS (Ujian Akhir Semester) serta UAS itu sendiri,” Curhatnya.
 
“Bukan bermaksud tidak menghargai waktu dan kesempatan berharga yang bapak berikan kepda saya, semua itu semata kekurangan saya yang belum bisa memenej waktu. Sekali lagi saya memohon maaf sebanyak-banyaknya dari bapak juga kawan-kawan," ungkap salah seorang mahasiswa peserta pelatihan menulis artikel ilmiah.
 
"Tapi insya Allah nanti, saya akan mengikuti apa-apa yang didiskusikan di grup ini dan akan mencoba menulis sebuah artikel untuk dikirim dan dikoreksi ke sini," ungkapnya lagi.
 
Curhat itu tidak menutup kemungkinan mewakili seluruh atau sebagian besar mahasiswa yang sedang latihan menulis artikel ilmiah. Sehingga perlu ada solusi terkait hal itu.
 
"Bapak mengerti situasi itu. Di satu sisi ada dorongan kuat ingin bisa menulis artikel ilmiah melalui latihan. Di sisi lain tengah sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah," jawab Wahyudin Darmalaksana, pelatih penulisan artikel ilmiah.
 
"Solusinya, coba komunikasi dengan dosen tentang kemajuan latihan penulisan artikel ilmiah. Karena itu, sejak awal bagus kalau topik artikel dalam penulisan artikel selaras dengan tema dua sampai tiga mata kuliah. Negosiasikan dengan dosen agar satu artikel ilmiah bisa mencakup tugas dua sampai tiga mata kuliah," tutur Wahyudin.
 
"Lalu upayakan artikel tersebut merupakan tulisan bersama antara mahasiswa dan dosen. Mahasiswa bisa meneruskan naskah artikel kepada dua sampai tiga orang dosen pengampu mata kuliah dengan tema yang saling beririsan. Dosen bisa memberikan reviu terhadap naskah artikel tersebut sehingga konten artikel menjadi kaya dan mendalam," tuturnya lagi.
 
"Hal itu akan mengurangi beban tugas mata kuliah dan sekaligus pencapaian pembelajaran mata kuliah secara lebih terukur dalam bentuk publikasi artikel di jurnal ilmiah dengan penulis bersama mahasiswa dan para dosen pengampu mata kuliah. Bahkan, pencapaian ini bisa menjadi pengganti pembelajaran mata kuliah itu sendiri seiring dengan kampus merdeka dan merdeka belajar," uangkap Wahyudin.
 
"Dosen yakin menyepakati hal itu sebagai kontrak pembelajaran. Bahkan, secara ekstrim, kontrak pengganti tugas dan perkuliahan. Keyakinan ini sejalan dengan tuntutan publikasi artikel di jurnal ilmiah bagi akademisi, baik dosen maupun mahasiswa," lanjutnya.
 
"Jika tugas kuliah terus-menerus mengalir, sementara latihan menulis artikel ilmiah terhenti, lantas ke mana sebenarnya arah dan tujuan pendidikan tinggi ini. Padahal, tugas-tugas sejauh ini berupa makalah. Sedangkan artikel ilmiah tidak lain adalah makalah terstandar," ungkap Wahyudin.
 
"Ini perlu perenungan bersama. Tentu semua hal penting. Termasuk penulisan artikel ilmiah pada saat telah menjadi tuntutan mahasiswa, terlebih di sekolah pascasarjana," lanjutnya, Sabtu, 09 Januari 2021.
 
Wahyudin Darmalaksana berharap latihan menulis artikel ilmiah jangan ditunda. "Menunda hal ini berarti meneruskan tugas makalah yang tidak atau kurang terstandar. Usahakan latihan menulis artikel ilmiah jangan berhenti,” ungkapnya.  
 
“Tidak masalah mahasiswa memiliki hanya satu naskah arikel ilmiah, tetapi mendapat reviu dari banyak pihak dari ahli bidang ilmu. Daripada banyak tugas mata kuliah tetapi hanya tersimpan di komputer begitu lama, dalam arti tidak punya pengalaman publikasi artikel di jurnal ilmiah,” tuturnya.
 
“Mahasiswa selama kuliah harus punya pengalaman publikasi ilmiah agar mereka tidak kaget ketika penyelesaian tugas akhir, " ungkap pegiat Kelas Menulis di UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini [Buleud].


Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI