Ikuti Terus Kelas Menulis Jangan Ketinggalan Karena Ia Memiliki Fokus Keberlanjutan untuk Mengatasi Tantangan Lain

 

 


 
 
 
Kelas Menulis mungkin sebentar lagi berakhir. Sebab, peran Kelas Menulis adalah untuk “membantu” hingga tercipta best practice sebagai role model. Jika telah tercipta role model, maka tugas Kelas Menulis berakhir untuk mencoba menggapai tantangan kemajuan lain.
 
Cikal bakal “Kelas Menulis” dimulai tahun 2019. Diawali dengan pembacaan terhadap laporan-laporan Skripsi. Saat itu ditemukan di dalam penulisan laporan Skripsi tampak beberapa belum bisa membedakan antara “Latar Belakang Penelitian” dengan “Kerangka Berpikir.”
 
Sejak itu, pendampingan dilakukan secara intensif terhadap mahasiswa tingkat akhir dalam latihan penulisan kerangka berpikir. Hasilnya cukup signifikan sebagian besar laporan Skripsi telah berusaha membedakan antara latar belakang penelitian dan kerangka berpikir.
 

Fokus 2020-2021: 
Stuktur Penulisan Karya Ilmiah
Tahun 2020 Kelas Menulis didirikan dengan mengupayakan fokus pada struktur di dalam penulisan karya ilmiah.
 
Dipahami bahwa di dalam karya ilmiah ada bagian-bagian. Tiap bagian dipelajari satu persatu. Himpunan tiap bagian di dalam karya ilmiah membentuk sebuah struktur. Yakni, susunan bagian-bagian yang tertata.
 
Meminjam bahasa agama, Kelas Menulis mengibaratkan “struktur penulisan karya ilmiah” seperti “susunan salat.” Seperti takbiratul ihram, membaca doa iftitah, membaca surat al-Fatihah, membaca surat pendek, rukuk dan itidal, sujud dan duduk di antara dua sujud, tasyahud awal, dan tasyahud akhir.
 
Melalui analogi struktur salat, hasilnya sangat signifikan tampak mahasiswa mengerti dan mampu membuat struktur penulisan karya ilmiah, khususnya artikel jurnal ilmiah. Sejak 2020, mahasiswa berhasil menerbitkan 529 artikel di jurnal ilmiah.
 
Catatan Kelas Menulis adalah bahwa proposal penelitian dan pendahuluan artikel ilmiah ialah itu-itu juga. Dengan perkataan lain, proposal penelitian adalah pendahuluan artikel ilmiah. Sebaliknya, pendahuluan artikel ilmiah ialah proposal penelitian.
 
Di tahun 2020, Kelas Menulis mengupayakan tiga fokus, yaitu: 1) Kerapian; 2) Struktur penulisan; dan 3) Penerapan kutipan bodynote berbasis perangkat bawaan Microsoft Word. Sedangkan di tahun 2021 mengupayakan fokus terhadap empat hal, yakni: 1) Teknik pengutipan dengan aplikasi otomatis terutama Mendeley; 2) Praktik berpikir komputasional; 3) Latihan menuangkan hasil penelitian dan pembahasan; dan 4) Pengiriman artikel pada jurnal berbasi Open Journal System (OJS).
 
Di tahun 2020 fokus paling utama adalah kerapian serta penguatan kemampuan dalam memahami struktur dan penulisan proposal penelitian, khususnya skripsi.
 
Selanjunya di tahun 2021 banyak yang dikerjakan. Terutama teknik berpikir komputasional (computational thinking) yaitu berpikir secara runtut atau tersusun. Berbasis teknik berpikir komputasional, karya ilmiah dipahami sebagai sebuah struktur yang dapat dikerjakan cepat dengan cara membuat langkah-langkah yang tersusun. Kelas Menulis memulainya dari formula penelitian, tinjauan pustaka, kerangka berpikir, metode penelitian, latar belakang penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan, abstrak, dan terakhir judul. Ini di Kelas Menulis dikenal dengan 11 langkah penulisan artikel ilmiah.
 
Fokus lainnya di 2021 ialah penguatan kemampuan dalam penulisan hasil penelitian dan pembahasan.
 
Hingga kini sudah banyak mahasiswa yang mampu menulis artikel ilmiah. Ibarat salat tadi, sudah banyak yang mampu melaksanakan salat secara tartib. Meskipun hal ini belum termasuk kekhusuan dalam salat. Dengan perkataan lain, belum termasuk tinjauan substansi isi artikel.
 

Fokus 2022-2023: 
Penguatan Kemampuan Penalaran Ilmiah (Scientific Reasoning
Memasuki awal tahun 2022, Kelas Menulis beranjak pada fokus lain. Khususnya berusaha fokus pada penguatan kemampuan penalaran ilmiah, yaitu berpikir “beres” di dalam pembahasan sesuatu.
 
Fokus ini dilatarbelakangi oleh masih banyak peserta yang kebingungan menentukan topik penelitian. Sebab, ada semacam tuntutan bahwa topik yang diangkat mesti dilatarbelakangi oleh sebuah masalah. Di saat yang sama peserta tampaknya tidak terbiasa menemukan masalah.
 
Kelas Menulis telah berusaha mendorong peserta untuk memulai menulis dari sebuah celah. Celah di sini adalah untuk mengganti posisi masalah. Cara mencari celah adalah dengan menelaah hasil penelitian terdahulu. Ada “peluang” apa yang sengaja disisakan oleh peneliti terdahulu. Sehingga peneliti sekarang bisa memulai penelitiannya dari peluang tersebut.
 
Cara lainnya untuk menemukan celah adalah buatlah daftar pertanyaan, lalu dari sekian pertanyaan tadi mana yang telah dijawab secara memuaskan oleh para peneliti. Jika ada pertanyaan yang belum dijawab secara memuaskan, maka disitulah peneliti memungkinkan menemukan celah penelitian.
 
Peserta hendaknya latihan dari penelitian yang sederhana. Dimana sebuah penelitian mestilah terdapat empat hal, yaitu: 1) Objek fomal; 2) Objek material; 3) Konteks; dan 4) metode. Objek formal adalah ilmu untuk memahami objek material. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan. Setiap ilmu pasti mempunyai objek formal dan objek material. Konteks yang dimaksud di sini adalah kejelasan makna untuk objek material. Sedangkan metode ialah “skenario” yang disediakan di dalam objek formal.
 
Di sini akan dikemukakan contoh sederhana, yaitu “Hadis tentang Iman dalam Konteks Teologi: Suatu Kajian dengan Metode Syarah.” Di dalam struktur judul ini, “Hadis” diposisikan sebagai objek formal dalam arti “suatu kajian lingkup ilmu hadis.” Sedangkan “Iman” diposisikan sebagai objek material dalam arti “teks hadis seputar pembahasan tentang iman.” Adapun “Teologi” diposisikan sebagai konteks dalam arti “makna iman dalam kaca mata ilmu tauhid.” Terakhir, metode syarah yakni “skenario yang disediakan di dalam objek formal” yang dalam hal ini ilmu hadis.

Contoh penelitian di atas, landasan teoritisnya adalah ilmu hadis (objek formal) yang akan membahas teks hadis tentang iman (objek material). Di dalam ilmu hadis terdapat metode yang salah satunya adalah metode syarah, yaitu yang akan berperan menjelaskan makna iman dengan kacamata teologi (konteks).
 
Sisi menarik dari contoh penlitian sederhana di atas adalah konteksnya, yaitu teologi. Jika ingin lebih menarik lagi, maka tambah lagi istilahnya menjadi “Teologi Pembebasan,” atau istilah lainnya. Sehingga topiknya menjadi “Hadis tentang Iman dalam Konteks Teologi Pembebasan: Suatu Kajian dengan Metode Syarah.” Jika ingin lebih menarik lagi, maka tambahkan dengan istilah “Metode Syarah Kontemporer.” Sehingga topiknya menjadi “Hadis tentang Iman dalam Konteks Teologi Pembebasan: Suatu Kajian dengan Metode Syarah Kontemporer.”
 
Ada beberapa kasus dimana ketika mahasiswa ditolak topik penelitiannya oleh dosen pembimbing, maka segera mereka mengubah topik lain. Kelas Menulis terpanggil untuk memberikan pendampingan bahwa yang mesti dilakukan bukan mengubah topik, melainkan “membereskan” penalaran ilmiah.
 
 
Bandung, 24 Februari 2022
Wahyudin Darmalaksana, Pegiat Kelas Menulis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung
 

Comments

Popular posts from this blog

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

LATIHAN MENULIS PENDAHULUAN ARTIKEL ILMIAH