Undangan Penelitian Flexing Menurut Hadis

 
Sumber Ilustrasi Pikiran-Rakyat.Com

 
Flexing atau pamer kekayaan di media mainstream menjadi tontonan keseharian sekarang ini. Hadis yang merupakan sabda-sabda Nabi Saw. tegas melarang pamer kekayaan. Larangan ini tidak cukup menggunakan perspektif fiqih untuk dijadikan kaca mata. Tapi dibutuhkan sudut pandang holistik.
 
Saat ini, dunia seperti terbalik. Orang kaya di masa lalu itu silent. Tapi di era cyber ini terdengar “berisik.” Misalnya, fenomena “crazy rich.” Dampaknya tidak sederhana. Contohnya, ada seorang remaja menulis status di media sosial “Ya Allah gue pengen kaya!” Jadinya orang ingin kaya mendadak.  
 
Hadis Nabi Saw tentang larangan pamer kekayaan menarik disingkapkan makna terdalamnya. Ini tidak cukup takhrij (mengeluarkan hadis dari kitab hadis untuk diteliti otentisitasnya). Lebih dari itu, tinjauan sebab wurud (konteks situasi mengapa Nabi Saw. menyabdakan sesuatu) perlu dilakukan.
 
Setelah ditemukan sebab wurud hadis lalu ditransformasi ke “era post-truth” (era pasca-kebenaran). Suatu situasi di mana fakta objektif kalah berpengaruh dibanding emosi atau keyakinan seseorang. Jangan-jangan Flexing itu hanya demi konten yang dibuat oleh tim content creator untuk menambang followers.
 
Jadi bukan penelitian hadis Nabi Saw. yang telah jelas melarang pamer kekayaan. Tentu, topik itu tidak menarik. Hal yang mungkin menarik adalah bagaimana teks hadis menyingkap “kebohongan” narasi Flexing.
 
 
Bandung, 21 Februari 2022
Wahyudin Darmalaksana, Pengurus Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia dan Pegiat Kelas Menulis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comments

Popular posts from this blog

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

LATIHAN MENULIS PENDAHULUAN ARTIKEL ILMIAH