ERA ONLINE


Benar era online tak dapat dihindari. Sebaliknya, justru era ini menuntut kita beradapsi.

Sistem online punya kelebihan yaitu efektifitas, efisiensi, pengukuran secara cepat, fisibilitas institusi, evaluasi, pertimbangan kebijakan, informasi, performa webometric, dan lain-lain. Mau gak mau kita latihan beradaptasi.

Ramalan tentang serbuan era digital sudah diantisipasi sebelumnya di negara-negara maju. Misalnya, konsultasi dan rekomendasi promotor untuk studi lanjut. Dalam menghadapi tantangan ini mula-mula mereka mengadakan pelatihan penggunaan surat elekronik (email). Surat menyurat bergeser dari mulanya manual menjadi email.

Sistem aplikasi makin berkembang pesat dengan sajian kecerdasan buatan yang terus diarahkan lebih smart. Segala layanan akademik diatasi oleh sistem aplikasi. Mulai dari administrasi, pembelajaran, bimbingan, dan hingga konsultasi. Bahkan, kelas menulis artikel pun sudah dilaksanakan secara online dengan aplikasi group penulisan.

Ini menjadi tantangan berat di pendidikan tinggi ortodok dan konvensional di dunia Barat. Segala aktivitas akademik direntang untuk menggunakan aplikasi online. Memang hal ini diamini untuk mengefektifkan waktu di tengah-tengah aktivitas dunia yang amat sibuk.

Namun demikian, pertemuan (tatap muka) tetap dipandang penting di universitas kelas dunia sekalipun. Biasanya mereka membuat janji bertemu di tempat pusat-pusat akademik seperti laboratorium, writing center, dan center of resources carier. Mulai perkumpulan kecil melalui peer group yang difasilitasi dosen sampai perkumpulan besar dalam bentuk asosiasi. Mereka mengusung isu utama bernama kolaborasi.

Berdasarkan gambaran di atas, jelas era digital tidak bisa "dilawan". People sebagai center (core) melalui pemanfaatan berbagai platform aplikasi diarahkan untuk dapat mewujudkan kolaborasi.

Kolaborasi dalam visi Ushuluddin 2019-2023 dikembangkan dari nilai wasathiyah (moderasi) mencakup transparansi, efektifitas, kerjasama, dan kemitraan seluruh stakeholder yakni dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan mitra kerjasama strategis.

Dari situ diharapkan tumbuh budaya, kultur, dan atmosfer akademik. Kultur yang memposisikan people sebagai center seiring perkembangan era digital yang tak terbantahkan.

Spesifik untuk kasus bimbingan maka kita tegaskan bawha mahasiswa adalah mitra dosen. Dengan kata lain, mitra kolaborasi.

Tindak lanjut kolaborasi dosen-mahasiswa dapat diarahkan untuk hal lain, seperti adaptasi Litapdimas, akun HKI, dan lemari digital. Terlibih lagi kolaborasi untuk inovasi.

Tabik
Wahyudin Darmalaksana

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN