MILAD AFI: FILSAFAT SEBAGAI WAY OF LIFE

Alkisah, pada zaman Plato, hiduplah seorang filusuf yang eksentrik. Namanya Diogenes (tidak begitu terkenal). Ia menentang semua konvensi sosial. Ia memilih hidup bebas; tidak punya rumah, tidak punya istri, tidak punya apa-apa. Dalam Filsafat Helenistik, ia dibaptiskan sebagai Pendiri dan Teladan aliran Sinisme. Ia tidak dipengaruhi tekanan politik, ekonomi atau sosial. Karena itu, ia digelari _l’uomo piû félice_, manusia yang paling bahagia.


Ia disebut sebagai salah seorang filusuf, walau tidak meninggalkan satu lembar pun tulisan. Ia dikenal sebagai filusuf karena menjadikan filsafatnya sebagai _way of life._ Ia mengkritik filsafat yang berupa permainan wacana, yang menjelaskan kata-kata dengan kata-kata.

Diogenes adalah lawan Plato paling tangguh. Beberapa kali keduanya bertemu. Plato digambarkan selalu kalah. Pada suatu hari Plato sedang memberi kuliah berkaitan dengan teorinya tentang ide,  tentang esensi (Arab: _mahiyah_; Inggris: _quiddity_). Ia menunjuk ke sebuah cangkir di atas meja. Ada satu cangkir di atas meja. Tetapi sebelum ada cangkir ada konsep “kecangkiran.” Kecangkiran mendahului semua cangkir tertentu.

“Aku melihat cangkir di atas meja, tapi aku tidak melihat kecangkiran”, tiba-tiba Diogenes menginterupsi kuliah. Dengan agak jengkel karena interupsi itu, Plato menukas, “Kamu bisa melihat cangkir karena kamu punya mata. Tetapi (sambil memberi isyarat dengan jarinya, menyentuh kepalanya), kamu tidak punya akal (intellect) untuk memahami kecangkiran.”

Diogenes bangkit dan berjalan menuju meja. Ia memeriksa cangkir, melihat ke dalamnya dan bertanya, “Apakah cangkir ini kosong?” Plato mengangguk. “Di manakah “kekosongan” yang mendahului semua kosong” tanya Diogenes. Plato berfikir sejenak. Tiba-tiba Diogenes mendekati Plato, mengetuk kepala Plato dengan telunjukanya dan berkata, “Kekosongan ada di sini!”.

Keapaan sesuatu (disebut _esensi, “the whatness”, quiddity_) diperoleh dengan mendefinisikannya. Ali dan Ani adalah orang-orang yang bisa kita lihat. Orang-orang itu konkret. Manusia itu abstrak. Manusia itu konsep, yang tidak bisa kita lihat. Ia hadir dalam benak kita sebagai definisi. Plato mendefinisikan manusia sebagai “binatang berkaki dua yang tidak berbulu”. Diogenes datang ke kelas Plato, sambil membawa ayam yang bulu-bulunya sudah dicabuti. “Inilah manusia menurut Plato,” ujarnya. Konon, sesudah itu Plato menambahkan “dengan kuku-kuku yang lebar dan rata.” 

Plato dan Diogenes seakan-akan mewakili dua aliran besar dalam filsafat. Plato melihat filsafat sebagai latihan intelektual untuk memahami obyek filsafat. Pada zaman moderen ajaran Plato itu mencapai puncaknya pada filsafat analitis (juga sebagian filsafat kontinental). Karena canggihnya, filsafat menjadi spesialisasi akademis yang jauh dari kehidupan nyata. 

Sekarang ada upaya global untuk mengembalikan lagi filsafat sebagai way of life, tidak persis seperti Diogenes, tentu saja. Filsafat dibahas dalam relevansinya untuk mencari solusi masalah-masalah kemanusiaan. Filsafat dirujuk untuk mencari makna hidup, mengejar kebahagiaan, melepaskan ketakutan, menentukan pilihan antara baik dan buruk.

Kita ingin menjadi bagian global dari gerakan mengembalikan filsafat kepada akarnya- menurut Pierre Hadot- kepada _la philosophie comme mode  de vie_, filsafat sebagai way of life; bukan sekedar _discours philosophique_, wacana falsafi saja.

HMJ AFI USHULUDDIN UIN BANDUNG

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN