*Pengenalan Budaya Akademik & Kemahasiswaan*
*Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung*
*Tahun 2019*


Oleh:
Wahyudin Darmalaksana


*Jika Aku Menjadi Mahasiswa*
Mungkin ini terbersit di dalam benak ketika Anda masih mengenakan seragam SMA. Mungkin timbul di dalam pikiran Anda "seru sepertinya kuliah tanpa peke baju seragam".

"Ya boleh jadi itu ada benarnya". Benar, di kampus itu aneka warna. Asal daerah, fakultas, dan jurusan. Tidak seragam.

*Luruskan Niat*
Hanya saja ada yang dipelihara bersama, yaitu niat. Dalam hal ini, luruskan niat. Bersihkan niat. Yakni, niat untuk menjadi insan akademik. Atau insan Pendidikan tinggi.

*Berpikir Kritis*
Insan akademik itu ditandai dengan "berpikir kritis" untuk krmanfaatan yang luas. Orang yang berpikir kritis adalah yang mengerti persoalan dan tahu bagaimana mengatasi persoalan itu.

Mengerti tidak cukup sebatas paham. Bisa jadi kita paham tapi tidak mengerti. Paham itu teori. Adapun "mengerti" pasti tergerak memberi solusi.

Untuk itu, syaratnya adalah empati. Yakni, menempatkan diri ke dalam keadaan, suasana emosi, dan problem yang dihadapi orang-orang di lingkungan sekitar. Berusaha mengenali apa yang sedang dialami dan dibutuhkan oleh orang-orang lingkungan sekitar. Ide apa yang ingin mereka kembangkan untuk mengatasi problem. Cari dan temukan solusi yang efektif, kreatif dan inovatif bersama teman sebaya dengan cara berkolaborasi. Kolaborasi adalah kumpulan individu yang saling bekerjasama. Lalu uji, uji, dan uji lagi ide, kreasi, dan karya bersama itu sampai benar-benar solutif. Benar-benar menjadi pemecahan masalah.

Itulah berpikir kritis. Inilah budaya akademik yang dirawat di dunia pendidikan tinggi global. Dunia global bukanlah internasional. Tapi kesadaran bersama untuk mengatasi masalah bersama. Seperti masalah pemamasan global, limbah plastik, ketegangan politik identitas, konfik antar-unsur agama, ujaran kebencian, kegagalan dan kesenjangan ekonomi, dan masalah kesejahteraan negara.

Semua itu issue atau problem global. Semua itu problem berat.

*Tegaskan Nilai*
Nah, penting sekali memikirkan kemanfaatan atau kemaslahatan. Dalam arti kebermaknaan atau menganut nilai yang eksplisit atau nilai yang tegas.

Di dalam agama, nilai itu penjelasan logis tentang iman. Antara lain iman akan adanya Tuhan Yang Maha Pengatur, Yang Maha Penyayang, dan Yang Memberi Rahmat bagi sekalian alam. Iman mengajarkan nilai-nilai luhur, seperti keteladanan atau uswah al-hasanah, pelayanan atau al-khidmah, dan moderasi atau al-tasamuh.

Semua nilai-nilai itu yakni keteladanan, pelayanan, dan moderasi sejatinya dinyatakan, ditegaskan, dan dilaksanakan dalam aktifitas kehidupan keseharian. Jadilah mahasiswa teladan yang mampu mengaplikasikan atau menerapkan ilmu pengetahuan. Pastikan semua kita menjadi teladan. Berikan layanan prima atau layanan terbaik kepada yang membutuhkan akan pelayanan. Lakukan kolaborasi sebagai wujud praktis dari moderasi.

Dengan begitu Anda dan semua kita akan memiliki kemanfaatan yang luas.

*SDM Unggul*
Visi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI adalah SDM atau sumber daya manusia Unggul Menuju Indonesia Maju. Visi UIN Sunan Gunung Djati Bandung ialah Unggul dan Kompetitif berbasis Wahyu Memandu Ilmu atau WMI. Adapun slogan atau tagline Fakultas Ushuluddin UIN SGD adalah “Ushuluddin Bergegas”.

Semua kita dihadapkan pada tantangan kualitas, relevansi, dan daya saing. Semua kita adalah kualitas ciptaan Allah Swt. Diri kita sendirilah yang kerap menutup kualitas itu. Bukalah kualitas itu. Nyalakan segala potensi yang telah Allah berikan. Meliputi akal, hati, dan kreatifitas.

Periksa, apakah aktivitas yang kita lakukan relevan atau sesuai atau berkonektivitas dengan kebutuhan orang lain sebagai penerima manfaat. Dalam memberi manfaat kepada orang lain, kita semua dihadapkan pada tantangan daya saing di tingkat lokal, tingkat nasional, tingkat regional ASEAN, dan tingkat global.

Niscaya SDM Unggul sangat dibutuhkan. Yaitu, SDM yang mengembangkan kapasitasnya secara lintas batas. Semua kita memiliki sasaran kompetensi berdasarkan jurusan atau program studi. Semua kita dituntut mumpuni di bidang kompetensi atau di bidang keilmuan jurusan kita. Agar kita menjadi insan yang profesional menurut keahlian kita. Lebih dari itu, kita dituntut mengembangkan kompetensi dengan mengenal kompetensi lain melalui kolaborasi. Kita dituntut untuk menguatkan skill dan keterampilan. Dengan begitu, semua orang memungkinkan berkembang melebihi batas-batas profesional menjadi insan yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing.

Saat ini kita dihadapkan pada tantangan abad 21 dengan munculnya era 4.0. Di era ini yang tidak segera bergegas akan tergerus. Karena itu, kita serukan slogan “Ushuluddin Bergegas”.

Selamat datang di kampus UIN SGD Bandung. Kampus berparadigma Wahyu Memandu Ilmu. Kitab suci Al-Qur’an menjadi inspirasi pengajaran, kurikulum, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kegiatan ekstra kurikuler. Paradigma ini atau cara pandang kita tentang dunia berwawasan Wahyu Memandu Ilmu menjadi keunggulan dan distingsi atau kekhasan UIN SGD Bandung.

*Rumah Moderasi*
Selamat datang di “Rumah Moderasi”. Yakni, Rumah Kolaborasi.

Rumah untuk mengasah akal, menghaluskan qalbu, membersihkan niat, berpikir kritis, merawat nilai, meningkatkan kreatifitas, menguatkan skill, meluaskan kemanfaatan, mengusung keunggulan, menunjukan kekhasan, dan memenangkan kompetisi dalam percaturan global.

Selamat datang di kampus penuh kedamaian, kita pastikan bersama terlahir insan-insan pendidikan tinggi yang mempunyai kesiapan untuk menghadapi tantangan dunia global. 


Yuk serbu langit sosmed dengan hashtag *#Ushuluddin_Bergegas*


Nakah Pidato Dekan Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung Periode 2019-2023

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

BANDUNG: TOP 10 PUBLIKASI INDEX SCOPUS