RUMUSAN MASALAH PENELITIAN SKRIPSI

Rumusan Masalah Penelitian Skripsi



Ini catatat lanjutan tentang penulisan proposal penelitian untuk skripsi. Catatan ini dikemukakan untuk acuan bimbingan skripsi materi konseptual yang dibedakan dengan materi eksperimen. Lihat catatan sebelumnya tentang materi konseptual yaitu penulisan skripsi bidang pengetahuan dasar yang dibedakan dengan bidang pengetahuan terapan. Bidang pengetahuan dasar dapat meliputi Teologi, Filsafat, Tasawuf, Ilmu al-Qur'an, Ilmu Hadis, dan Studi Agama.

Catatan ini mengambil fokus tentang rumusan masalah. Ada beberapa penulis proposal skripsi yang masih kebingungan membuat rumusan masalah. Secara teknis, rumusan masalah biasanya dalam proposal penelitian skripsi ditulis setelah latarbelakang masalah.

Rumusan masalah bukan pertanyaan penelitian, melainkan fokus utama penelitian. Fokus utama adalah tema dari sebuah topik yang hendak dibicarakan. Topik itu lebih luas dibandingkan tema yang lebih spesifik. Peneliti bisa saja membicarakan suatu topik yang luas mencakup berbagai hal. Namun, pelaksanaan penelitian menghendaki ditegaskannya fokus utama yang menjadi tema dari topik yang luas tadi.

Misalnya, bidang Teologi tentang topik keadilan dengan tema keadilan pemimpin muslim. Bidang Filsafat tentang topik akal dengan tema akal aktif. Bidang Tasawuf tentang topik ma'rifat dengan tema ma'rifat menurut pandangan tokoh Sufi. Bidang Ilmu al-Qur'an tentang topik interpretasi dengan topik interpretasi Fazlur Rahman. Bidang Ilmu Hadis tentang topik hadis dengan tema pendekatan tahrij, dalalah, tematik, syarah, dan living Hadis atau Sunnah. Bidang studi Agama tentang topik moderasi beragama tentang topik toleransi, kesetaraan, ujaran kebencian, dan lain-lain.

Bahkan, suatu tema yang dianggap sudah spesifik masih dapat dipersempit lagi menjadi lebih spesifik lagi. Dapat dikatakan bahwa tema penelitian skripsi bila makin spesifik maka makin fokus. Pelajarannya adalah pelaksanaan penelitian skripsi mesti memiliki fokus paling utama. Jadi bukan membicarakan topik yang luas melaikan membahas tema yang spesifik namun tetap terkait dengan topik yang luas. Sebagai latihan, apakah sudah menyiapkan tema spesifik yang menjadi fokus utama?

Tiba sekarang untuk menggambarkan rumusan masalah. Penelitian eksperimen biasanya sudah terlihat hipotesis di rumusan masalah. Misalnya, jika dongkrak menggunakan hidrolik maka akan berperan meringankan beban. Peta jalan (road map) penelitian materi terapan biasanya terdiri atas research and development (R&D), pemanfaatan atau penerapan teknologi, produk, dan market (pasar). Hampir sama dengan rumusan masalah bidang penelitian eksperimen, rumusan masalah bidang penelitian konseptual dapat berupa asumsi. Umpamanya, ajaran tentang iman dalam konsep Islam telah menghasilkan pengetahuan mengenai nilai yang sistematis sebagaimana ditemukan di dalam pemikiran tokoh muslim Ibn al-Taymiyyah. Ini bukan hipotesis tetapi merupakan bentuk asumsi berdasarkan hasil penelitian pendahuluan sebagi tema spesifik fokus utama. Peta jalan penelitian materi dasar biasanya terdiri atas penjelasan atau deskripsi, perumusan konsep, dan temuan teori atau postulat baru. Deskripsi untuk Skripsi S1, perumusan konsep untuk Tesis S2, dan temuan postulat baru untuk Disertasi S3.

Penelitian Skripsi S1 cukup untuk tujuan menjelaskan atau mendeskripsikan. Rumusan masalah akan fokus terhadap materi utama yang hendak dijelaskan atau dideskripsikan. Misalnya, penelitian bidang Teologi dengan rumusan masalah "terdapat ajaran iman dalam Islam yang menuai polemik pemikiran antara aliran Jabariyah dan aliran Mu'tazilah". Bidang Filsafat Islam dengan rumusan masalah "terdapat tingkatan akal dalam pemikiran filsafat al-Farabi". Bidang Tasawuf dengan rumusan masalah "terdapat kosep mahabah dalam spiritualitas Rabiah al-Adawiyah". Bidang Ilmu al-Qur'an dan Tafsir dengan rumusan masalah "terdapat konsep ikhlas dalam al-Qur'an menurut interpretasi double movement Fazlur Rahman". Bidang Ilmu Hadis dengan rumusan masalah "terdapat teks hadis tentang pemimpin perempuan dalam kitab Hadis berdasarkan Tahrij, Dalalah, Tematik, Syarah, dan Living Hadis atau Sunnah --pilih salah satu pendekatan. Bidang studi Agama dengan rumusan masalah "terdapat arahan tentang moderasi beragama dalam konsep Islam moderat untuk kerjasama produktif dengan sesama pemeluk agama".

Contoh rumusan masalah di atas bisa jadi masih terlalu umum atau luas. Sehingga semua rumusan masalah tersebut dapat dipersempit lagi menjadi tema yang lebih spesifik sebagai sasaran fokus utama penelitian. Apabila terlalu umum atau luas biasanya tema- tema tersebut sudah ada yang membahas dari penelitian sebelumnya. Oleh karena itu, penyempitan tema menjadi lebih spesifik lagi sangat disarankan. Penelitian merupakan pekerjaan yang tidak ada habisnya bila tema tentang sesuatu digali atau dieksplorasi secara lebih spesifik lagi. Di dalam suatu tema yang spesifik selalu ditemukan subjek yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Justru subjek penelitian makin spesifik biasanya makin menarik untuk disingkapkan atau untuk dijelaskan.

Rumusan masalah terdiri atas fokus utama yang menjadi sentral penelitian. Idealnya rumusan masalah diarahkan sejak latarbelakang masalah. Perlu ditegaskan bahwa latarbelakang masalah berperan menggiring pembicaraan dari perbincangan umum menuju rumusan masalah. Penelitian konseptual tidak perlu menyertakan ketimpangan atau kesenjangan (gap) antara keharusan dengan kenyataan di lapangan. Penelitian konseptual bukan bertujuan untuk mengubah masyarakat seperti halnya penelitian eksperimen. Penelitian konseptual bertujuan untuk menjelaskan terma dan pandangan terlebih yang tampak tumpang tindih atau kompleks, apologetik atau tidak pasti, kontradiksi atau bersilangan bahkan bertabrakan, dan ambigu atau tidak jelas. Rumusan masalah tidak selalu sesuatu yang tampak dengan bertentangan namun dapat pula dia merupakan sebuah terma yang bila digali melalui penelitian dipastikan dapat menghasilkan makna.

Terkadang latarbelang masalah tidak terlalu menjadi perhatian. Sebab, terumuskannya sebuah fokus utama itulah yang menjadi perhatian. Tidak terlalu diperhatikan dalam arti penulisan latarbelakang masalah lebih merupakan kepiawaian penulis dalam menggiring suatu permasalahan dari topik yang umum hingga sampai ke tema yang spesifik sebagai fokus utama tunggal penelitian. Jika terlarih menulis latarbelakang masalah maka penulis memungkinkan untuk menuturkan permasalahan dengan baik sampai rumusan masalah terlihat secara terang benderang.

Bagaimana teknis menyusun rumusan masalah? Berikut ini cara menyusun rumusan masalah yang amat teknis. Mula-mula coba ajukan pertanyaan. Lalu, jawab pertanyaan tersebut. Tuliskan jawaban tersebut ke dalam kalimat sempurna menurut tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hendak ditegaskan di sini bahwa rumusan masalah itu tidak lain merupakan jawaban sementara atas pertanyaan penelitian. Disebut sementara mengingat jawaban yang paripurna masih dibutuhkan penelitian mendalam. Justru dengan jawaban sementara tersebut dapat terlihat apakah sesuatu layak dan menarik dilakukan penelitian ataukah tidak perlu dan tidak menarik untuk dilaksanakan penelitian. Contohnya, apakah kualitas hadis lafadz la ilaha ilallah dalam bendera Islam merupakan hadis sahih atau hadis dhaif? Coba jawab pertanyaan tersebut sebagai jawaban sementara. Jawabannya adalah "bendera Islam dengan lafadz la ilaha ilallah dalam teks hadis diinformasikan termasuk hadis yang berkualitas sahih". Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa jawaban sementara atas pertanyaan penelitian disebut dengan rumusan masalah. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, pertanyaan penelitiannya adalah: Bagaimana kesahihan hadis lafadz la ilaha ilallah dalam bendera Islam? Ini merupakan fokus utama tunggal penelitian. Pertanyaan itu dapat diperinci menjadi beberapa satuan pertanyaan, yaitu: 1) Bagaimana pandangan umum tentang bendera Islam dengan lafadz la ilaha ilallah; 2) Bagaimana sebaran hadis dalam kitab-kitab hadis berkenaan dengan bendera Islam yang bertuliskan lafadz la ilaha ilallah; dan 3) Bagaimana kualitas hadis bendera Islam degan lafadz la ilaha ilallah menurut pendekatan tahrij hadis. Meskipun tampak rincian pertanyaan penelitian, namun tetap fokus utama sentral penelitiannya itu tunggal, yakni kesahihan hadis bendera Islam dengan lafadz la ilaha ilallah. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan kesahihan hadis melalui pendekatan tahrij.

Terkait hal di atas, penulis tidak perlu menceritakan polemik bendera Islam di latarbelang masalah. Sebab, penulis tidak bertujuan untuk menyelesaikan polemik tersebut. Tujuan penulis fokus menjelaskan kesahihan hadis menurut tahrij. Adapun di latarbelakang masalah sebutkan bahwa hadis bendera Islam belum ada yang mentahrij. Sebutkan pula tahrij menjadi penting untuk menilai atau untuk mengukur kesahihan atau otentisitas hadis. Paparan latarbelakang masalah cukup sampai di situ. Kecuali peneliti bertujuan melakukan analisis terhadap temuan hasil tahrij. Misalnya, analisis pengamalan bendera Islam di Indonesia dengan pendekatan sosiologi fungsional. Ini berarti terdapat dua pekerjaan penelitian, yang pertama studi literatur untuk penilaian kualitas hadis dengan metode tahrij, dan kedua studi lapangan minimal melalui wawancara dalam menghimpun data lapangan untuk dilakukan analisis --terhadap data lapangan tersebut-- dengan menggunakan pendekatan sosiologi fungsional atau etnografi dan pendekatan lainnya yang tepat atau relevan.

Ideal bila penelitian konseptual skripsi yang merupakan jenis penelitian kualitatif menerapkan dua langkah, yakni studi literatur dan sekaligus studi lapangan. Ini sebagai latihan dan pembelajaran dalam pelaksanaan penelitian kualitatif dengan mengakomodasi studi literatur sekaligus studi lapangan. Namun, studi lapangan bukan berarti peneltian eksperimen yang biasanya bertujuan untuk mengukur sesuatu. Studi lapangan di sini untuk mengambil data dengan cara mengamati, memperhatikan, mendengarkan, dan mewancarai. Lalu data itu diolah atau dikelola dan ditampilkan untuk kemudian dianalisis dengan pendekatan yang tepat.

Kembali ke persoalan rumusan masalah. Berdasarkan paparan terdahulu diharapkan terdapat gambaran yang terang berkenaan dengan rumusan masalah. Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan rumusan masalah secara terang benderang. Sebab, setiap akademisi dapat memiliki pandangan yang beragam tentang rumusan masalah. Pastinya rumusan masalah itu kompleks dalam arti tidak dapat dijelaskan dengan sederhana terlebih lagi disederhanakan. Ulasan terdahulu tidak dimaksudkan untuk menyederhanakan cara menyusun rumusan masalah, tetapi semoga saja penjelasannya cukup sederhana sehingga mudah dicerna. Tentu saja "menyederhanakan" dan "sederhana" merupakan dua hal yang berbeda tegas.

Pengertian lain dari rumusan masalah dapat pula disebut problem akademik yang biasanya terdapat di dalam celah sebuah tema. Sederhananya, sebut saja rumusan masalah itu "statement of focus" atau pernyataan fokus utama tunggal penelitian. Bisa juga disebutkan dengan ruang kegelisahaan akademik yang layak untuk ditanyakan dan layak untuk dijawab melalui pelaksanaan penelitian. Terakhir, kita tidak hendak berdebat terkait istilah, tetapi tulisan ini bermaksud sebagai acuan untuk terus berlatih. Latihan dalam rangka segera tuntas menjadi sarjana. Yakin bisa !


Bandung, 18 Nopember 2019
Yudi W. Darmalaksana

Comments

Popular posts from this blog

UIN SGD BANDUNG RAIH PERINGKAT PERTAMA DI INDONESIA VERSI SCIMAGO

PRESTASI

BANDUNG: TOP 10 PUBLIKASI INDEX SCOPUS