HIKMAH PENGUKUHAN GURU BESAR

 


 
Hikmah dari suatu peristiwa pasti melimpah. Hikmah yang dimaksud di sini adalah nilai-nilai inti yang dapat diaktualisasikan ke dalam ruang aksiologis. Karena melimpah maka orang bisa memilih butir-butir hikmah yang paling bermakna dari setiap peristiwa.
 
Baru-baru ini telah digelar peristiwa pengukuhan Guru Besar. Tak tanggung-tanggung dalam satu waktu 13 Guru Besar dikukuhkan. Bukan alang kepalang peristiwa ini tercatat MURI (Museum Rekor Indonesia), tepatnya pengukuhan Guru Besar terbanyak di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan.
 
Pemecah rekor MURI ini adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Ini petanda ada atmosfer keilmuan yang dahsyat di kampus ini. Salah satunya perjuangan publikasi ilmiah.
 
Publikasi ilmiah merupakan syarat utama menjadi Guru Besar. Syarat utama ini bisa dibilang paling menyita waktu dan energi. Pasalnya, artikel ilmiah mesti terpublikasi di jurnal skala internasional bereputasi global. Orang bisa saja memiliki naskah untuk dikirim ke jurnal skala ini. Namun, penerbitan artikel di skala global dipastikan antriannya amat panjang. Kenyataan ini belum ditambah lagi dengan kemungkinan naskah artikel tertolak. Tegaslah bahwa pemenuhan syarat utama ini paling menyita waktu dan tentu menguras enegi pula.
 
Apa hikmah pengukuhan 13 Guru Besar? Ada ungkapan begini, bila berani menjadi dosen, maka harus berani menjadi Guru Besar. Ungkapan ini mendorong para calon Guru Besar untuk menyiapkan naskah artikel. Publikasi artikel ilmiah di jurnal skala internasional bereputasi global menjadi harga mati.
 
Berarti menyiapkan naskah artikel ilmiah menjadi langkah pertama para calon Guru Besar. Penyiapan naskah ini berperan besar dalam mewujudkan atmosfer akademik. Dimulai dari memilih topik utama, menyiapkan teori besar yang memayungi topik utama tersebut, dan menetapkan teori operasional penelitian. Terlepas apakah pemikiran ataukah observasi.
 
Jenis penelitian bergantung jurnal yang menjadi sasaran. Beberapa jurnal menerima naskah artikel konseptual. Beberapa jurnal yang lain hanya memilih naskah artikel eksperimen. Jurnal pertama mendasarkan pada jenis penelitian kualitatif. Jurnal kedua mensyaratkan jenis penelitian kuantitatif. Ada pula jurnal yang membuka ruang bagi jenis penelitian campuran (mixed method).
 
Penelitian multi-disipliner lebih terbuka ruang yang lebar di jurnal ilmiah. Peluang ini dimungkinkan melalui kolaborasi antar-rumpun ilmu yang berbeda. Bisa jadi saat ini merupakan era kolaborasi. Satu disiplin ilmu tidak bisa berdiri sendiri dalam pemecahan masalah yang kompleks. Kolaborasi akademisi antar-disiplin ilmu yang tidak serumpun dipastikan mencipta atmosfer akademik yang hebat.
 
Hikmah pengukuhan 13 Guru Besar tentu saja amat melimpah. Khususnya, hikmah bagi para calon Guru Besar. Antara lain menggeser taradisi “pengajaran” ke budaya “penelitian” ilmiah.
 
Wa Allah ‘Alam….
 

Bandung, 26 November 2020
Wahyudin Darmalaksana, Pegiat Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comments

Popular posts from this blog

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

CARA MENULIS PEMBAHASAN PENELITIAN