Aku Pernah Mati


 


Aku ragu. Situasi ini tidak pernah kualami sebelumnya. Tidak pernah ku ragu seperti ini. Ku tak pernah ragu tuk katakan cinta, bila ku suka. Aku tidak pernah ragu untuk menjalani vaksin. Tapi kali ini keraguan menghinggapi pikiranku juga batinku.
 
Ku lihat akar-akar pohon sepertinya licin. Air yang keluar dari celah-celah batu pada dinding tebing terlihat terus menetes pada akar-akar pohon. Etah berapa lama air itu terus menetes, mungkin tahun. Pasti akar-akar itu licin untuk dijadikan pegangan juga pijakan. Bagaimana bila aku terpeleset, terpelanting, dan jatuh menimpa bebatuan.
 
Ku himpun motivasi. Baik semangat dari dalam ataupun dari sekitar. “Ruhku tiba-tiba hilang,” kata temanku. Aku ada di antara ya dan tidak. Dan cenderung tidak. “Tidak,” kataku di dalam batin. Aku bergulat dengan batinku sendiri untuk menggeser tidak menjadi ya. Hingga entah dari mana motivasi itu muncul. Akhirnya, ku putuskan ya.
 
Ku kuatkan peganganku daripada pijakanku. Entah teori dari mana. Ku pastikan akar yang ku genggam bukan akar yang licin. Tanganku erat mencengkram. Batinku berdebar. Suatu debar yang hebat. Ku pastikan pula pijakanku tidak menginjak akar yang licin. Ku sebenarnya takut akan ketinggian. Terutama bila ada angin meniup kencang. Pernah suatu Ketika ku memanjat pohon. Dan angin kencang membuatku ciut untuk turun. Juga ku bermasalah dengan tulang punggung. Aku benar-benar ingin memutuskan untuk turun lagi.
 
Merangkak untuk sampai ke atas tebing seakan berlangsung satu abad. Hingga akhirnya ku sampai di ketinggian. Tak sempat ku pikirkan apapun. Memang sengaja ku kosongkan pikiran. Aku merasa berada di realitas ambang. Realitas antara langit dan bumi. Di ruang hampa, bukan langit dan bukan bumi. Beberapa ingatan berusaha masuk ke dalam pikiranku. Tapi ku tepis.
 
Ku bertanya, “gimana caranya?” Sebuah pertanyaan spontan yang sungguh-sungguh. Terlintas beberapa orang yang ku cintai. “Inikah kematian,” kataku sekelebat di dalam pikiranku. “Melangkah saja,” kata pemandu. Seperti suara malaikat pencabut nyawa. “Ah ku tak mau berpikir panjang,” kataku di dalam batin.

Ketinggian 11 meter. Aku melangkah. Dan benar ruhku seakan hilang. “Begini mati itu kataku.” Doa-doa dipanjatkan. Ku terjun melayang dan kujumpai aku masih bernafas --masih hidup-- ketika tersadar setelah tercebur ke dalam air sungai.
 
Bandung, 17 Februari 2022
Wahyudin Darmalaksana

Comments

Popular posts from this blog

CARA MENENTUKAN JUDUL PENELITIAN SKRIPSI

CARA MEMBUAT JUDUL PENELITIAN

LATIHAN MENULIS PENDAHULUAN ARTIKEL ILMIAH